Islam sebagai landasan beribadah, tidak hanya
mengandung ajaran-ajaran yang berkaitan dengan esensi ketuhanan (uluhiyyah),
tetapi juga mengandung esensi kemanusiaan (ubudiyyah). Puasa sebagai salah satu
bagian dari ibadah, tentunya secara mutlak tidak meninggalkan kedua esensi tersebut
guna mencapai kesempurnaan dalam berpuasa. Dalam konteks ini, berpuasa
sejatinya menyeimbangkan hubungan manusia, baik secara vertikal kepada Tuhannya
(hablumminallah) ataupun secara horizontal kepada manusia lainnya
(hablumminannaas).
Dalam berpuasa, hubungan secara vertikal kepada Tuhan
dapat tercipta dengan adanya sikap takaruf (mendekatkan diri) dengan Sang
pencipta. Dengan penanaman sikap takaruf ini, puasa dapat dijadikan sebagai
kontrol atas perbuatan keji dan mungkar, serta sebagai media penghantar untuk
menjadi muttaqin yang sesungguhnya. Sudah dapat dipastikan, di bulan Ramadan
ini, setiap muslim di seluruh dunia sibuk melakukan kegiatan dengan berbagai
euforia, terkhusus di Indonesia. Umat Islam mengadakan banyak agenda dalam
menjalankan ibadah puasa. Di samping itu, berbagai tempat-tempat ibadah seperti
masjid, musala, dan majlis taklim, ramai dengan segala macam ritual
peribadatan. Puasa Ramadan semakin semarak dengan adanya kajian-kajian
keislaman yang ditawarkan oleh berbagai media pertelevisian.
Fenomena instan yang terjadi dewasa ini, menggambarkan dengan jelas bahwa puasa Ramadan ibarat magic yang bisa mengubah segalanya secara tiba-tiba. Banyak orang yang sebelumnya malas pergi ke masjid, sekarang malas beranjak dari masjid. Mereka yang sebelumnya jarang atau bahkan tidak pernah melaksanakan shalat malam (qiyamullail), sekarang tidak pernah absen mengerjakannya. Serta banyak ritual peribadatan lainnya untuk menghiasi bulan yang penuh berkah (syahrun mubarok) ini.
Fenomena instan yang terjadi dewasa ini, menggambarkan dengan jelas bahwa puasa Ramadan ibarat magic yang bisa mengubah segalanya secara tiba-tiba. Banyak orang yang sebelumnya malas pergi ke masjid, sekarang malas beranjak dari masjid. Mereka yang sebelumnya jarang atau bahkan tidak pernah melaksanakan shalat malam (qiyamullail), sekarang tidak pernah absen mengerjakannya. Serta banyak ritual peribadatan lainnya untuk menghiasi bulan yang penuh berkah (syahrun mubarok) ini.
Ironisnya, semua rutinitas seputar puasa Ramadan hanya
terjadi di bulan ini saja. Berbagai macam ritual peribadatan, guna menanamkan
sikap takwa oleh setiap personel terhadap Sang pencipta, menghilang seiring
dengan berakhirnya bulan ini. Kebanyakan orang memaknai puasa Ramadan hanya
sebatas kewajiban saja, tanpa memerhatikan subtansi ibadah puasa yang
sesungguhnya.
Berdasarkan hukum psikologi, kegiatan yang dilakukan
secara continuous (berlanjut) dapat menimbulkan suatu kebiasaan. Nah, atas
dasar implemetasi teori inilah pemaknaan puasa diartikan. Puasa dan ibadah
lainnya di bulan Ramadan, sejatinya bertujuan untuk meningkatkan
ketaqwaan seorang muslim, agar menjadi muttaqin yang sesungguhnya. Namun,
fenomena yang ada sekarang, segala ritual peribadatan seputar puasa Ramadan hanya
dilakukan pada bulan Ramadan saja. Tujuan Ramadan untuk menambah ketakwaan umat
Islam tidak bisa terealisasikan karena banyak orang tidak bisa bersikap
istiqomah dalam menjalaninya.
Meningkatkan Kepekaan Sosial Melalui pemaknaan
horizontal, ibadah puasa mengajarkan seseorang untuk memiliki kepekaan dan
kepedulian terhadap sesama. Umat Islam pada hakikatnya diajarkan untuk memiliki
sikap empati terhadap orang-orang yang selama ini terpinggirkan, dan berada
dalam situasi sosial yang sulit. Namun, kondisi yang terjadi sekarang, banyak
orang berpuasa, tetapi tidak serta merta memerdulikan keadaan saudara
semuslimnya yang mempunyai keterbatasan sosial ekonomi.
Bagi kebanyakan orang, berpuasa justru menjadikan gaya
hidup hedonisme, berlebih-lebihan bahkan menghambur-hamburkan. Lihat saja gaya
mereka berbuka, tentulah tidak hanya cukup satu jenis makanan, tetapi berbagai
makanan seakan telah mereka siapkan untuk kepuasan berbuka. Di sisi lain,
banyak orang-orang diluar sana yang merasakan sulitnya mencari makanan untuk
sekadar membatalkan puasa. Tentu akan lebih utama, apabila mereka yang memiliki
kelebihan makanan itu disedekahkan kepada yang lebih membutuhkan. Karena
berlebihan dalam berbuka itu tidak baik, sementara kesederhanaan adalah gaya
hidup yang bijaksana.
Terkait dengan sikap hedonisme diatas, seorang muslim
diharuskan menjauhinya. Sebab, sejatinya hakikat berpuasa adalah ikut serta
merta merasakan keadaan orang-orang sekitar yang berada dalam keadaan sosial
yang sulit. Maka, sungguh tidak pantas apabila sikap berlebih-lebihan itu
dilakukan ketika banyak orang lain yang merasakan kesulitan hidup. Karena itu,
diperlukan penanaman sikap kesederhanaan dalam menjalankan puasa oleh setiap
individu, guna menciptakan tujuan berpuasa dalam menumbuhkan kepekaan terhadap
sosial. Dengan terpenuhinya esensi sosial dalam puasa, tentulah umat Islam
dapat mempunyai jiwa sosial tinggi dan peduli terhadap lingkungan.
Untuk mewujudkan ketakwaan substantif dari setiap umat
Islam, perlulah kiranya berbagai ritual peribadatan di bulan Ramadan terus
dijalankan ketika bulan ini telah berakhir. Karena pada dasarnya, tujuan utama
puasa adalah membentuk pribadi yang bertaqwa. Kepada makna inilah, tujuan utama
puasa dapat tercapai apabila umat Islam keluar dari Ramadan dengan membawa
predikat taqwa.
Hal ini sesuai dengan apa yang dicita-citakan dalam
Q.S al-Baqarah : 183 yaitu, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu
berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu
bertaqwa”. Tingkat keberhasilan seseorang menjalankan ibadah puasa selama bulan
Ramadan, bisa diukur dari tingkat ketaqwaannya, yaitu sejauh mana seseorang itu
mampu merealisasikan ketaqwaan, dan selalu menerapkan sikap muroqobah (kontrol)
Allah dalam berbagai situasi dan kondisi. Karena itu, umat Islam hendaknya
menjadikan puasa sebagai ajang pelatihan menjadi pribadi yang dapat
mentransformasikan nilai-nilai akhlak selama puasa Ramadan dalam kehidupan
sehari-hari. Sehingga bisa terciptanya seorang muttaqin yang mampu menghadapi
berbagai tantangan zaman. Wallahu a’lam bi al-Shawab.
*Mahasiswa UIN Walisongo Semarang dan Ketua Umum Aliansi Santri Intelektual Organik (ASIO) Semarang
Tulisan ini pernah dimuat di Koran Harian Bhirawa, Rabu 24 Juni 2015

