![]() |
| Oleh : Tri Rahayu* |
Ingatkah nyanyian tempo doeloe? Begini
bunyinya, “Ayo kawan kita bersama menanam jagung di kebun kita; cangkul,
cangkul, cangkul yang dalam...”. Sepenggal lirik tersebut seolah menggambarkan,
“sepertinya kerja mencangkul itu menyenangkan”.
Barang siapa mencangkul atau menanam, maka ia
berhak memetik buahnya. Siapapun yang menanam ialah yang akan menuai. Begitulah
kata pepatah. Dan mencangkul itu kerja. Mencangkul adalah ibadah. Menanam di
lahan yang sudah tercangkul rapi merupakan amal saleh. Dan bila hasil menanam
itu dinikmati oleh banyak orang, maka namanya menjadi amal jariyah,
yakni amal yang akan mengalir terus menerus, abadi, walaupun penanamnya sudah
mati (red: meninggal).
Amal jariyah semacam ini juga akan dihadiahkan kepada kita
yang mempunyai amal saleh, beriman, dan mendoakaan kedua orang tuanya. Juga
kepada kita yang membelanjakan hartanya di jalan Allah Swt. Ulama kontemporer
berkata, itulah tabungan/ deposito di dunia yang akan berlanjut berketerusan
secara kekal di akhirat.
Para pencangkul kerja-kerja semacam itu akan
menerima amal pokok dan bunga amal tabungan/ deposito. Bunga berbunga. Harum
semerbak di taman Firdaus. Kerja-kerja yang demikian seyogyanya menyenangkan
kita semua. Mengapa tidak? Bukankah itu merupakan hasanah fid dun-ya dan
hasanah fil akhiroh? Syarat untuk memperoleh hasil kerja demikian ialah
niat karena Allah Swt semata, ikhlas untuk mardlatillah.
Inilah yang dinamakan oleh para ulul albab sebagai
etos kerja tauhidi. Hidup itu kerja. Dan kerja itu hidup. Kerja kita
harus dikembangkan dari meja ke kebun. Bukan hanya dari meja ke meja saja.
Kebun tempat kita kerja sangat luas. Seluas daratan dan lautan. Mulai kerja
kasar hingga kerja halus menurut keahlian masing-masing.
Ada di antara kita yang bekerja dan dipekerjakan
sebagai direktur (penentu kebijakan), manajer (perencana), operator
(pelaksana), dan sebagai pengendali/ pengawas atau supervisor. Itulah
piramida pembangunan kerja dalam sebuah lembaga atau negara. Boleh jadi sebuah
rumah besar yang namanya perusahaan komersial atau lembaga pendidikan nirlaba
barulah akan dapat bangun dan berkembang bila di dalamnya ada sebuah
piramida pembagian kerja.
Umumnya kita sepakat, bahwa kerja yang paling
halus berada di puncak piramida. Namun, tanggung jawabnya paling berat. Kalau tidak
pahalanya yang terbesar, maka kita yang di puncak piramida ini akan menerima
dosa terberat apabila bangunan rumah tersebut tidak terwujudkan seperti yang
didesain. Rumah tidak membesar, tidak kokoh, bahkan menjadi rapuh, mengecil,
dan mudah diterbangkan angin isu, gosip, ataupun fitnah.
Sementara kerja-kerja yang paling kasar itu biasanya
ada di dasar piramida. Ada di lantai paling bawah. Dan kalau lantai dasar itu
juga keropos, kerjaan semrawut atau semau gue, sudah dapat kita
pastikan, rumah piramida akan rontok cepat atau lambat.
Andaikata pun masing-masing lapis piramida
tampaknya betul-betul kerja keras, sama-sama kerja pada bagiannya, boleh jadi
kita akan menyaksikan isi rumah besar itu ternyata kalang kabut. Rumah besar
terguncang dengan piramida kerja tidak karuan. Sedang di ujung lainnya, ada
rumah kecil tetapi kokoh, karena didukung oleh organisasi kerja rapi. Dan kerja
rapi tampaknya hanya dapat dijelmakan oleh personil yang mendahulukan prestasi
ketimbang prestise dan uang.
Kita diingatkan oleh ahli manajemen Peter
Drucker yang berkata: “Money without man is nothing, but man without money
can move mountain” (Duit tanpa orang takkan menghasilkan apa-apa, tetapi
orang tanpa duit mampu membopong gunung). Membopong atau memindahkan gunung
merupakan sebuah kerja besar. Suatu prestasi tinggi tanpa keluar duit. Sekali
lagi, inilah etos kerja Islami. Maksudnya, jangan sampai kita menjadi
lesu dan malas atau tidak mau bekerja kalau tidak ada duit. Namun, Pak Peter
Drucker tidak pernah menampik bahwa duit tidak penting atau dinafikan.
Sebelum Drucker, bahkan rasul kita, Muhammad Saw
telah bersabda, bahwa untuk menegakkan agama dan negara diperlukan dinar (HR.
Hakim). Artinya, duit dinar ini akan lebih mengokohkan hasil kerja kita.
Begitu juga umumnya tiap pasangan suami isteri. Pada awalnya tidak mempunyai fulus
untuk membangun rumah tangga. Namun, dengan niat, tekad baja, kerja keras,
sabar, dan tekun, ternyata kemudian bahkan mampu menyuapi sembilan anak
kandungnya. Inilah hasil kerja. Dan ini bukan miracle.
Belajar dari Tukang
Gado-Gado
Ini bukan sulap atau keajaiban. Yang aneh ialah apabila kita
menyaksikan, sepertinya sudah 27 tahun home business gado-gado/ pecel/
rujak dari ibu yang di sebelah rumah kita kok tidak maju-maju, jalan di
tempat. Bahkan omset semesteran/ tahunannya akhir-akhir ini mulai menurun. Dan
ketika home business itu ditingkatkan menjadi restoran canggih dengan
suntikan dana kredit berbunga, malah ibu itu jadi kikuk, kerap mengalami stress,
sering marah pada anak-anak dan suaminya. Akhir dari perjalanan restoran
ini ialah hidup tak laju, mati pun tak mau.
Ini memang aneh, tetapi nyata. Mengapa? Setelah
kita kaji, amati, dan merenungkannya, ternyata penyebabnya adalah
ketidakserasian. Yakni kaki kanan ibu itu sudah menapak di sektor modern
(berupa restoran), tetapi kaki kirinya masih tertinggal di sektor tradisional
(berupa cara kerja warung kecilan). Dan ketika gaji/ upah/ honor pegawai
restorannya ditingkatkan sebesar 15-51 persen pun tidak berdampak peningkatan
disiplin dan produktivitas. Sebaliknya, gado-gado yang dipasok untuk masyarakat
pembeli membusuk di sudut-sudut restoran, alias tidak terjual.
Si bapak, sang suami dari ibu gado-gado, sibuk
meminta nasehat kepada beberapa ahli manajemen kondang di dunia, bahwa motivasi
mampu meningkatkan performance atau hasil kerja dari pegawai antara
50-70 persen. Memang dalam Islam,
semangat tauhid akan mampu meningkatkan motivasi kerja. Menumbuhsuburkan rasa
berani bertindak, bertanggung jawab, amanah, berkepribadian bulat. Dan
menjauhkan kita dari sikap atau ulah hipokrit. Walhasil, ibu gado-gado
kemudian berhasil memakmurkan restorannya setelah melaksanakan tauhidi base
achievement motivation training (latihan motivasi kerja tauhidi). Restoran
itu lalu dapat merukunkan kembali hubugan ibu, bapak, anak, dan para pekerjanya
serta para langganannya. Kalau begitu, terbuktilah nasihat orang sepuh, bahwa
kerja merupakan sebuah nilai. Kerja tidak semata-mata untuk mencari roti atau
nasi.
Kerja is not for bread alone, kata Konosuke Matsushita yang ahli dalam pengembangan sumber daya manusia. Barangkali masih ada di antara kita yang memang akan bekerja sebanyak upah yang diterima, karena mereka masih dalam subsistence level, masih pada tingkatan kerja untuk cari nasi saja. Barangkali ada juga kita yang sudah pada level bahwa kerja itu sebuah nilai, seolah-olah kita bekerja 40 jam atau lebih dalam seharinya. Semoga. Wallahu A’lamu Bi Al-Shawab.
Kerja is not for bread alone, kata Konosuke Matsushita yang ahli dalam pengembangan sumber daya manusia. Barangkali masih ada di antara kita yang memang akan bekerja sebanyak upah yang diterima, karena mereka masih dalam subsistence level, masih pada tingkatan kerja untuk cari nasi saja. Barangkali ada juga kita yang sudah pada level bahwa kerja itu sebuah nilai, seolah-olah kita bekerja 40 jam atau lebih dalam seharinya. Semoga. Wallahu A’lamu Bi Al-Shawab.
*Young Researcher of IRQS (Intellectual for Research and Quranic Studies) UIN Walisongo Semarang

