![]() |
| Oleh : Liya Rahmawati |
Ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam. Menempati urutan
terakhir dalam susunan kelima rukun Islam tersebut. Ditempatkan dalam urutan
yang paling akhir, karena ibadah haji merupakan ibadah yang berat disamping
memerlukan banyak biaya untuk melaksanakannya juga dibutukan banyak usaha.
Usaha yang giat sebagai modal untuk melaksanakannya. Sehingga kata-kata yang tertera pada susunan
rukun Islam tersebut adalah haji bagi yang mampu. Mampu secara moril maupun
secara materiil. Terlepas dari cara kita yaitu mengais uang sebanyak-banyaknya
supaya bisa berangkat haji, tidak ketnggalan pula yang namanya doa. Ketika ada
usaha tanpa ada doa bagaikan dua sisi dari sekeping mata uang logam yang
apabila salah satunya tidak ada maka ketiadaan keduanya.
Kunjungan ke tanah sucipun telah dilalui dan sekarang jamaah haji
telah kembali ke tanah air. Kenangan-kenangan ketika di tanah sucipun akan
abadi selamanya. Menjadi sebuah kenangan yang tidak akan terlupakan. Kini
jamaah haji yang telah pulang ke tanah air menjadi duta Allah untuk berdakwah
dan mengamalkan amar ma’ruf nahi mungkar. Seorang haji diharapkan mampu
menerapkan pesan moral yang telah dilaksanakan ketika di tanah suci dan
merefleksikannya dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga mampu memberi dampak
positif terhadap lingkungan sekitar.
Haji bukanlah sekedar prosesi lahiriah belaka yang dilakukan oleh
umat Islam. Tetapi haji merupakan suatu momen revolusi untuk merevitalisasi
fitrah manusia. Dengan kata lain, orang yang telah melaksanakan haji hidupnya
akan menjadi lebih baik dibandingkan sebelumnya. Jika tidak demikian,
sesungguhnya mereka hanyalah wisataan yang berlibur ketika bulan Dzulhijjah
saja. Orang yang telah haji diharapkan
mampu memberi pencerahan terhadap ummat sehingga menjadi haji yang mabrur.
Salah satu indikator haji yang mabrur yaitu Menegakkan shalat berjamaah dan
menjadi pelopor kemakmuran masjid. Salah satu pendidikan dalam haji yang
mengedepankan pentingnya melaksanakan shalat berjamaah adalah perintah kepada
para jamaah haji untuk melaksanakan shalat arbain (empat puluh waktu shalat) di
masjid nabawi yang bertujuan membiasakan para hujjaj untuk selalu sigap
melaksanakan shalat berjamaah di masjid sekembalinya dari haji. Dan masih
banyak indikator kemabruran haji seseorang.
Pengalaman spiritual ketika haji itu berbeda-beda antara satu
dengan yang lainnya. Amaliah-amaliah yang ada dalam ibadah haji seringkali
sulit bagi akal manusai untuk memahami makna-makna yang terkandug didalamnaya.
Amaliah-amliah yang dianggap irrasional. Sesungguhnya amliah-amliah tersebut
mempunyai makna yang sangat mendalam. Misalnya saja ketika melakukan tawaf.
Makna yang terdapata daam melksanakan rukun haji tersebut yaitu memperjuangka syiar Allah, sehingga Islam dan
Alloh menjadi pusat rotasi dunia sebagai realisasi kepatuhan dan kehyusuan
ibadah kepada Allah. Tawaf dimulai dari Hajar Aswad. Ka’bah berada di sisi
kiri, dan berjalan memutar melawan arah jarum jam. Jika difikirkan mengapa
tawaf dilakasanakan tidak searah dengan jarum jam? Ada makna tersimpan
didalamnya. Sebagai analogi yaitu sekrup, sekrup jika diputar searah dengan
jarum jam maka yang akan terjadi kendur. Sebaliknya jika diputar berlawanan
arah jarum jam maka akan menjadi kencang.
Sekrup dikorelasikan dengan ibadah thawaf, ketika mengelilingi kabah berlawanan dengan
arah jarum jam maka kita akan semakin kencang untuk memperbaiki dan akan
semakin dekat dengan Allah. planet-planetpun ketika berotasi pada porosnya
beralawanan dengan arah jarum jam. Jika dipikirkan, dalam thawaf manusia mengikti
irama alam semesta menghadap Allah dan berputar mengikuti aturannya. Mengikuti iramaNya (ketentuan/aturanNya) di
bumi agar tidak terjadi ketimpangan.
Banyak keterkaitan antara amaliah-amliah dengan kehidupan
sehari-hari. Asing-masing amliah mempunyai makna yang tersembunyi yang menurut
sebagian orang tidak masuk akal. Seperti ihram, mabit, wukuf, talbiyah.
Misalnya wujud realisasi dari rukun-rukun haji tersebut misalnya, selalu
mendahulukan panggilan Allah tanpa mencampurkan dengan niat-niat lain yang
tidak baik sebagai ujud realisasi dari talbiyah. Menjaga diri dengan
aturan-aturan dan tidak melaksanakan hal-hal yang diharamkan sebagai realisasi
dari ihram. Selalu meluangkan waktu untu berkhalwat, tadabur alam sebagai wujud
realisasi dari mabit. Senantiasa
berintrospeksi sebagai perwujudan makna Wukuf di Arafah.
Oleh karena itu , seorang yang telah haji dan mampu memahami
makna-makna yang terkandung dalam rukun-rukun yang dilaksankana pada saat haji.
Mampu menyumbangka pengalaman spritual yang pernah dialaminya. Serta mampu
memberikan pencerahan terahadap ummat dan membawa peruubahan yang sifatnya
perbaikan di kalangan ummat terkhusus yang berada disekelilingnya minimal.
Dengan cara Aktif memperjuangkan dakwah dan amar maruf nahi munkar.
*Peneliti di Lembaga Studi Agama dan Nasionalisme (LeSAN), UIN Walisongo Semarang
*Peneliti di Lembaga Studi Agama dan Nasionalisme (LeSAN), UIN Walisongo Semarang

