Dipenjara Karier

Monash Media
0
Oleh Niswatul Khoiroh
Kondisi perempuan zaman sekarang berbeda dari kondisi pada zaman dahulu. Dengan mengikuti perkembangan zaman, perempuan modern lebih eksis daripada perempuan zaman klasik yang lebih identik dengan jargon 3M (macak, manak, masak) atau 3 Ur (sumur, dapur, kasur).
Melihat banyaknya perempuan yang berkarier pada saat ini, perempuan modern dipandang lebih lincah, lebih pintar dan lebih cerdas dibandingkan dengan perempuan zaman dahulu. Karena dilihat secara umum, perempuan zaman sekarang lebih berpendidikan dan lebih mandiri secara materi.
Apalagi sejak diperjuangkannya hak-hak perempuan melalui gerakan feminis pada tahun 1980-an, kiprah perempuan di dunia karier lebih melonjak secara kuantitas. Terlebih dengan adanya lowongan 30% dalam dunia perpolitikan untuk kaum hawa.
Realita tersebut bisa mengakibatkan perempuan lebih sibuk dalam ranah karier daripada ranah domestik. Dalam situasi seperti ini sebenarnya perempuan dihadapkan pada dilema kehidupan yang nyata. Pilihan yang tidak mudah pun harus segera diputuskan untuk memilih antara menjadi wanita karier sesuai dengan tuntutan zaman atau tetap berkiprah dengan profesi wajib yang harus dilakukan, yakni sebagai seorang ibu rumah tangga.
Ada beberapa hal yang membuat perempuan memilih memperjuangkan karier disamping profesinya menjadi ibu rumah tangga. Hal tersebut bisa terjadi karena hobi, melanjutkan karier yang sudah pernah dirintis dari jauh-jauh hari atau karena gaji suami yang kurang mencukupi kebutuhan rumah tangga. Alasan terakhir sering menjadi problem utama dalam kehidupan rumah tangga.
Merasa gaji suami kurang bisamencukupi kebutuhan keluarga, perempuan yang sudah memiliki bakat untuk berkarier pasti akan merasa terpanggil untuk membantu sang suami mencari nafkah. Akan tetapi, fakta yang sering terjadi, alasan seperti itu justru tidak menjadi solusi terbaik untuk menciptakan keharmonisan dalam keluarga.
Lebih parahnya, kehidupan rumah tangga berakhir di meja hijau atau perceraian karena hal yang semacam itu. Seperti kasus yang dialami oleh artis Venna Melinda dan Ivan Fadilla yang bercerai pada Maret 2014. Jika sudah seperti ini, sudah bisa dipastikan bahwa anak-anak yang akan menjadi korban.
Madrasah Utama
Tidak dapat dipungkiri, jika seorang ibu yang juga menyandang status sebagai wanita karier, dalam kondisi keluarga yang utuh maupun tidak (broken home), anak tetap akan menjadi korban.
Korban dari kurangnya kasih sayang, kurang perhatian, dan kurang waktu kebersamaan dari sang ibu. Dampak yang biasa ditunjukkan oleh sang anak adalah sikap kenakalan yang biasanya sampai di luar batas, susah diatur dan cenderung suka melawan. Ibu adalah madrasah utama bagi seorang anak, mulai dari anak masih berada di dalam kandungan, sampai lahir dan dewasa, peran seorang ibu tidak pernah lepas dari tanggung jawab untuk mendidik sang anak.
Usia dini adalah saat yang tepat bagi seorang anak untuk belajar, belajar mengenal alam, mengenal lingkungan, juga mengetahui segala hal, sehingga sang anak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Tentunya, hal semacam itu tidak akan didapatkan sepenuhnya dari seorang babysitter yang tidak ada hubungan darah dan tidak ada kedekatan di antara mereka. Sama halnya dengan saat sang anak menginjak usia kanak-kanak. Pada saat seorang anak mulai menapaki dunia pendidikan, peran sang ibu juga sangat dibutuhkan.
Mulai dari mengajari untuk mengenal huruf, belajar membaca, menulis, menggambar dan lain sebagainya yang tentunya juga tidak bisa dilakukan oleh seorang ibu rumah tangga yang lebih mengutamakan karier. Yang sering terjadi, sang ibu karier hanya mengamanahkan sang anak kepada guru les atau guru private atau bahkan hanya cukup dengan guru di sekolah. Padahal, bukan hanya itu yang dibutuhkan seorang anak.
Pengetahuan umum yang diajarkan di sekolah atau pengetahuan yang hanya dibutuhkan untuk memperoleh prestasi akademik tidak lah cukup. Anak juga membutuhkan pengetahuan keagamaan untuk meningkatkan jiwa spritualitasnya yang nantinya juga akan berpengaruh terhadap etika sang anak terhadap lingkungan sosial di sekitar. Selain itu, anak juga membutuhkan siraman rohani dari sang ibu untuk membentuk psikologi yang stabil juga untuk membentuk kedekatan emosional antara sang ibu dan anak.
Oleh karena itu, kehadiran ibu dalam keseharian seorang anak sangatlah penting. Tidak mudah bagi seorang perempuan menjadi wanita karier pada saat sudah berkeluarga, apalagi sudah memiliki momongan. Kecuali jika dia bisa merintis kariernya di rumah, seperti melakukan bisnis online, membuka butik di rumah dan lain sebagainya
. Sehingga, kehidupan rumah tangganya tetap bisa berjalan dengan baik dan tetap bisa mengawasi sang anak secara langsung. Di samping semua itu, perempuan karier harus siap mengorbankan tenaga yang lebih, untuk kariernya, untuk anak, juga untuk suami. Yang lebih penting lagi, disamping pekerjaannya, perempuan karier harus tetap kembali ke khitah ibu untuk melahirkan anak yang berkualitas calon pejuang bangsa. (81)

— Niswatul Khoiroh, mahasiswi Fakultas Ushuluddin UIN Walisongo Semarang dan staf pengajar di PG-TK Islam Mellatena Ngaliyan Semarang

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
5/related/default