![]() |
| Oleh: Durrotun Nisa* |
Mahasiswa
mempunyai posisi yang sangat setrategis dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara. Jika digambarkan dalam sebuah piramida, mahasiswa menempati posisi
tengah, di atas para penguasa, di bawah bersama rakyat jelata. Dengan demikian,
jelas sekali bahwa mahasiswa mempunyai tanggung jawab besar, yaitu sebagai
jembatan yang menghubungkan antara rakyat dengan pemerintahan. Dengan kata
lain, mahasiswa harus mampu menggali aspirasi dari rakyat, di saat yang
bersamaan juga harus mampu menyampaikan aspirasi itu kepada para penguasa.
Peran
ganda menjadi sesuatu yang tidak dapat dielakkan. Sebab, selain
bertanggung jawab meningkatkan kualitas diri melalui prestasi akademik,
mahasiswa juga dituntut berpartisipasi aktif dalam kehidupan sosial. Suara
kritis terhadap sesuatu yang tidak pro-rakyat wajib dikumandangkan. Lebih jauh
lagi, mahasiswa juga harus bisa menyuarakan aspirasi-aspirasi rakyat. Baik
aspirasi itu datang secara langsung maupun dengan dijemput. Namun, kebanyakan
mahasiswa saat ini justru cenderung apatis terhadap fenomena atau masalah
sosial, politik, dan ekonomi yang terjadi di masyarakat. Yang ada di benak
mereka hanyalah bagaimana meraih prestasi setinggi-tingginya, sehingga lulus
cepat, kemudian langsung mencari kerja. Sementara, kezaliman di sekelilingnya
dibiarkan begitu saja. Sikap acuh tak acuh menjadi ciri khas mahasiswa saat
ini.
Ironi
semakin tajam, kebanyakan mahasiswa saat ini sudah tidak menunjung lagi
idealisme. Padahal, idealisme mahasiswa sangat dibutuhkan demi kemajuan dan
kemakmuran negara-bangsa. Sebab, dengan idealisme yang tinggi, karakter kuat
dapat tercipta. Jika karakter kuat sudah melekat di dlam diri sebagian besar
mahasiswa, maka mahasiswa yang termasuk dalam kategori pemuda bisa diharapkan
untuk membangun masa depan bangsa Indonesia yang lebih cerah. Sebagaimana
dikatakan Bung Karno, “Berikan aku sepuluh pumuda, maka akan ku guncang dunia.
Mahasiswa
Abal-Abal
Setidaknya
ada beberapa model mahasiswa abal-abal. Pertama, “Kupu-Kupu” (berarti kuliah
pulang-kuliah pulang), jenis mahasiswa yang kehidupannya hanya dalam
lingkup wilayah 3K (kost, kampus, dan kantin). Model mahasiswa seperti
biasanya tidak suka bersosialisasi dan tidak pernah ikut serta dalam event atau
organisasi apapun. Biasanya mereka berprinsip “habis kuliah langsung pulang,
jangan kemana-mana”. Jika sudah demikian, maka secara tidak langsung akan
mengilangkan peran-peran yang seharusnya dijalani oleh seorang mahasiswa.
Kedua, “Kura-Kura” (kuliah rapat-kuliah rapat), nah model mahasiswa seperti berbanding terbalik dengan model mahasiswa kupu-kupu, mereka justru akan megikuti banyak organisasi, sehingga saking banyaknya kegiatan, kura-kura kerjaannya hanya rapat dari pagi hingga sore, sehingga besoknya bolos kuliah karena alasan kecapekan. Alhasil, kuliah mereka menjadi tak terurus. Yang ketiga, “Lalat” (selalu telat), kerjaannya mahasiswa lalat setiap hari adalah titip absen, dan tentunya datang kuliah nggak bawa tas, cuma bawa diri saja. Biasanya mereka cuma masuk dengan diri saja tanpa tas biar dikira dari WC, padahal sebenarnya telat datang. Kemudian ketika deadline tugas atau ujian, baru meminjam catatan teman.
Kedua, “Kura-Kura” (kuliah rapat-kuliah rapat), nah model mahasiswa seperti berbanding terbalik dengan model mahasiswa kupu-kupu, mereka justru akan megikuti banyak organisasi, sehingga saking banyaknya kegiatan, kura-kura kerjaannya hanya rapat dari pagi hingga sore, sehingga besoknya bolos kuliah karena alasan kecapekan. Alhasil, kuliah mereka menjadi tak terurus. Yang ketiga, “Lalat” (selalu telat), kerjaannya mahasiswa lalat setiap hari adalah titip absen, dan tentunya datang kuliah nggak bawa tas, cuma bawa diri saja. Biasanya mereka cuma masuk dengan diri saja tanpa tas biar dikira dari WC, padahal sebenarnya telat datang. Kemudian ketika deadline tugas atau ujian, baru meminjam catatan teman.
Kembali
ke Khitah
Masa
depan suatu bangsa erat kaitannya dengan kondisi para pemuda yang di suatu
negeri. Jika pemuda proaktif dan peduli dengan kehidupan bernegara, maka hal
itu akan sangat menunjang pembangunan bangsa ini. Begitu sebaliknya. Dalam
pandangan ini, mahasiswa merupakan bagian penting dalam perubahan suatu bangsa,
karena mereka adalah generasi muda yang mempunyai pengetahuan mumpuni. Melihat
situasi dan kondisi mahasiswa saat ini, sebuah perubahan besar harus
disegerakan. Pertama, melalui pembudayaan diskusi. Diskusi merupakan kegiatan
yang wajib bagi seorang mahasiswa, mereka dituntut untuk berdiskusi baik dalam
organisasi maupun dalam perkuliahan. Dalam forum diskusi, mereka harus bisa
membuat gagasan-gagasan yang bisa dituangkan sebuah konsep, untuk kemudian
direalisasikan sebagai solusi dalam kehidupan berbangsa.
Kedua,
publikasi. Setelah diskusi, akan menghasilkan gagasan yang bisa dipublikasikan
kepada masyarakat, misalnya mereka membuat opini untuk dikirimkan ke media
massa, sebagai upaya untuk menyosialisasikan gagasan kepada msyarakat luas.
Ketiga, aksi. Jika dulunya mahasiswa terlihat garang terhadap birokrasi dan
pernah menjadi momok menakutkan bagi aparat birokrasi yang berkuasa saat
itu,tetapi gerakan mahasiswa saat ini semakin tidak terarah. Jika pemuda
dulu berikrar satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa. Tapi kini, hal itu
hanya menjadi semboyan tanpa makna saja. Mereka sudah disilaukan oleh
kepentingan semu.
Sebagai mahasiswa, mereka harus mempunyai mempunyai strategi tersendiri. Misalnya, mereka berpandangan bahwa predikat “mahasiswa” merupakan jabatan, sehingga mereka bisa beranggapan bahwa menjadi seorang mahasiswa adalah amanah yang harus dijalankan hak dan kewajibannya sebagai mahasiswa. Studi itu sebagai pekerjaan utama. Kemudian membangun motivasi. Sebab, motivasi adalah faktor penentu untuk sukses studi dan pengembangan diri, yang terakhir membangun komitmen pada studi, dengan komitmen yang kuat, mahasiswa akan mampu mencurahkan waktu, energi, dan perhatiannya untuk melaksanakan tugas-tugas studi.
Sejatinya, dalam pembentukan karakter mahasiswa yang tangguh dan kritis akan terbentuk di organisasi, karena dalam organisasi, mereka akan mengkaji isu-isu politik baik secara likal, nasional ataupun internasional. Mereka akan turun aksi apabila kebujakan pemerintah tidak pro dengan rakyat. Jadi mereka harus aktif dalam mengikuti pergerakan-pergerakan mahasiswa. Mereka harus menamkan kembali semangat-semangat yang dimiliki oleh para mahasiswa pada masa 90 an yang aktif dalam pergerakan-pergerakan. Wallahu a’lamu bi al-shawaab.(**)
Sebagai mahasiswa, mereka harus mempunyai mempunyai strategi tersendiri. Misalnya, mereka berpandangan bahwa predikat “mahasiswa” merupakan jabatan, sehingga mereka bisa beranggapan bahwa menjadi seorang mahasiswa adalah amanah yang harus dijalankan hak dan kewajibannya sebagai mahasiswa. Studi itu sebagai pekerjaan utama. Kemudian membangun motivasi. Sebab, motivasi adalah faktor penentu untuk sukses studi dan pengembangan diri, yang terakhir membangun komitmen pada studi, dengan komitmen yang kuat, mahasiswa akan mampu mencurahkan waktu, energi, dan perhatiannya untuk melaksanakan tugas-tugas studi.
Sejatinya, dalam pembentukan karakter mahasiswa yang tangguh dan kritis akan terbentuk di organisasi, karena dalam organisasi, mereka akan mengkaji isu-isu politik baik secara likal, nasional ataupun internasional. Mereka akan turun aksi apabila kebujakan pemerintah tidak pro dengan rakyat. Jadi mereka harus aktif dalam mengikuti pergerakan-pergerakan mahasiswa. Mereka harus menamkan kembali semangat-semangat yang dimiliki oleh para mahasiswa pada masa 90 an yang aktif dalam pergerakan-pergerakan. Wallahu a’lamu bi al-shawaab.(**)
*
Mahasiswa Peraih Bidikmisi di
Jurusan Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
UIN Walisongo Semarang

