![]() |
| Oleh: Mahfudh Fauzi* |
Kisruh KPK Vs Polri benar-benar menguji kepemimpinan Jokowi.
Karenanya, Jokowi membatalkan pelantikan Komjen Budi Gunawan sebagai Kapolri.
Kini, ia menunjuk Komjen Badrodin Haiti sebagai calon Kapolri yang baru.
Langkah itupun tidak tanpa arah, tentu untuk meredakan kisruh agar tidak larut
dan berkepanjangan. Komjen Badrodin pun sudah berjanji ingin menengahi antara
Polri dan KPK yang sempat memanas.
Bagaimana tidak, ditetapkannya
tersangka pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad atas kasus
pemalsuan dokumen, dan wakilnya Bambang Widjojanto tersangka kasus kesaksian
palsu, serta dua wakil KPK Zulkarnain dan Adnan Pandu Pradja, terakhir 21
penyidik KPK juga terancam jadi tersangka atas kepemilikan senjata api (Senpi),
membuat negeri ini ‘terguncang’. Lembaga independen yang selama ini
memperjuangkan negara dari ‘tikus-tikus berdasi’ sedang diterjang ‘badai’.
Akhirnya, melalui Keputusan
Presiden (Keppres) Jokowi memberhentikan sementara Abraham Samad dan Bambang
Widjojanto, dan menunjuk Deputi Pencegahan KPK Johan Budi SP sebagai plt
pimpinan KPK. Sebagai lembaga penegak hukum, seharusnya mereka taat rambu-rambu
hukum demi persatuan dan kesatuan bangsa. Mulai dari polisi, jaksa, pengacara,
dan hakim, harus mau dan mampu bahu-membahu menjaga kedaulatan hukum di
Indonesia.
Alih-alih bersenergi, antar
lembaga justru rawan konflik. Alhasil, Jokowi dituntut untuk bertindak tegas
dan solutif. Jokowi harus memperkaya trobosan agar seluruh lembaga dan instansi
di bawah wewenang presiden, berjalan di jalur yang benar sesuai dengan kode
etik dan searah dengan fundamen norm bangsa (Pancasila). Ingat, musuh Indonesia
di luar sudah banyak. Jika di internal kita saling bermusuhan, maka bangsa ini
mudah untuk ditumbangkan.
Problem ini memang tidak bisa
dianggap remeh, justru menjadi ‘lampu kuning’ bagi Jokowi. Setidaknya, Jokowi
dapat merangkul bawahannya bukan hanya di level pimpinannya saja. Analoginya,
jika ingin melumpuhkan ular, tidak cukup jika hanya memegang kepalanya. Seluruh
tubuh harus diwaspadai. Sia-sia jika pimpinannya patuh, tapi antar bawahan
saling menghujat, saling dendam, saling menjatuhkan, dan lainnya.
Pekerjaan Rumah
Jokowi
Sekali lagi musuh di luar sudah
banyak, jika kita masih sibuk saling bermusuhan antar sesama bangsa Indonesia,
maka bangsa ini benar-benar terancam hancur. Salah satu cara untuk keluar dari
belenggu kehancuran adalah mengoptimalkan Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber
Daya Manusia (SDM). Fokus mengoptimalkan dua potensi tersebut dengan berbasis
kerja kolektif. Kita punya SDA melimpah ruah, SDM tak terhitung jumlahnya,
hanya perlu kerja, kerja, dan kerja untuk meberdayakannya.
Perlu dikaji lebih mendalam,
apakah kelebihan tersebut masih dapat dirasakan untuk esok hari, minggu depan,
tahun depan, atau untuk masa yang lama? Ingat, bahwa SDA yang melimpah dan SDM
yang banyak jika sama sekali tak berkualitas maka sama saja bohong. Apa yang
menjadi daya tarik bagi Indonesia? Sektor laut, ternyata sudah dieksploitasi.
Pertanian, ternyata terancam proyek industrialisasi. Tambang, dikuasai pihak
asing. Pendidikan, masih jalan di tempat. Apa lagi?
Sudahlah, itu menjadi rahasia
umum, Indonesia merupakan negara ‘penyakitan’. Di seluruh sektor sentral dan
non-sentral, Indonesia ‘digrogoti’ penyakit keserakahan, kezaliman, dan
kesewena-wenaan. Mau menyalahkan penjajahan asing, toh ternyata anak bangsa pun
ikut menjajah. Ingat pencuri berpakaian penegak hukum seribu kali lebih
berbahaya. Dan jangan harap anugrah terhadap bangsa Indonesia dapat lagi
dijumpai dan dinikmati.
Lebih jelasnya, problematika
bangsa Indonesia multidimensional. Jadi dibutuhakan perbaikan total dari hulu
hingga hilir. Benar bahwa Indonesia berada di zona rawan, bukan rawan berarti
sempit yaitu rawan bencana. Namun, rawan eksploitasi, rawan penjajahan, rawan
pencurian, rawan kriminalitas, rawan narkoba, rawan korupsi, dan lainnya.
Karena itu, bangsa Indonesia perlu
sadar diri. Hakikatnya Indonesia adalah negara kuat yang memiliki sejarah
besar. Ingat, memiliki penyakit walaupun kompleks tetap masih bisa disembuhkan.
Artinya, Indonesia masih memiliki harapan dan kesempatan untuk bangkit hingga
benar-benar layak disebut negeri tanah surga. Menjaga keutuhan bangsa dan
negara, terutama di sektor Sumber Daya Alam (SDA) adalah tanggung jawab
bersama, karena hal itu menurut Abraham Lincoln akan berhubungan erat dengan
masa depan.
Indonesia Bisa!
Teringat hadis Nabi Muhammad SAW,
bahwa setiap penyakit ada obatnya. Artinya ‘penyakit’ bangsa Indonesia dari
seluruh sektor penting pasti ada solusinya. ‘Lampu kuning’ bagi Jokowi artinya
rambu-rambu peringatan Jokowi atas problematika kompleks bangsa Indonesia.
Peringatan jika tidak diindahkan maka akibatnya fatal, ‘lampu merah’ untuk
Jokowi. Tamatlah cerita kepemimpinan Jokowi yang katanya lahir dari ‘rahim’
demokrasi.
Tentu kita tidak berharap
demikian. Jokowi dipilih rakyat berarti Jokowi diberi harapan penuh oleh
rakyat. Jadi, menurut Napoleon Bonaparte (1769-1821) seorang pemimpin adalah
penyedia harapan. Oleh sebab itu, kultur kreatif harus segera dibangun, sudah
cukup jelas raport merah bangsa Indonesia di atas. Dan itu akan semakin
bertambah parah jika masyarakat Indonesia tidak berpikir kreatif untuk
mensiasatinya.
Tiada kata yang tepat selain
‘Indonesia bisa’! Bukan tidak mungkin hukum berdaulat, pendidikan maju, ekonomi
tumbuh, pertahanan kuat, pertanian bangkit, SDA lestari, dan SDM unggul.
Revolusi mental dan jargon giat kerja, kerja, dan kerja oleh Jokowi sudah tepat
untuk merubah paradigma maju bangsa Indonesia. Bangsa ini harus bersatu dengan
mental superior dan etos kerja yang kuat. Tentu dengan dibubuhi moralitas yang
sesuai dengan kearifan lokal. Wallahu a’lam bi al-shawwab.***
*Peneliti
Muda di Lembaga Studi Agama dan Nasionalisme (LeSAN) untuk UIN Walisongo
Semarang.
Dimuat di Haluan Riau, 14 Maret 2015

