![]() |
| Oleh: Ibnu Anshori |
Mahasiswa Fakultas Ushuluddin UIN Walisongo Semarang, Peneliti
Muda di Asrama Mahasiswa Pemuda Indonesia (AMPI) Semarang.
Seorang pemimpin dapat diibaratkan sebagai nahkoda besar
yang berkeharusan mengantarkan penumpangnya sampai tujuan dengan keadaan
selamat. Selamat dengan jaminan keamanan dan kenyamanan. Senada dengan ibarat
tersebut, seorang pemimpin negara dituntut dapat memajukan negaranya ke arah
yang lebih baik dan menjanjikan. Tentunya tanpa rentan dengan ketidakadilan,
penindasan, penderitaan, dan kesengsaraan. Dengan target kemajuan ini, sepatutnya
pemimpin melakukan yang terbaik untuk rakyat. Hal ini dapat dicapai salah
satunya dengan berkarakter ‘miskin’. Miskin yang dimaksud adalah miskin
berkepribadian buruk, miskin melakukan penyelewengan kekuasaan, dan miskin berkhianat
terhadap amanah rakyat.
Selain itu, miskin juga dapat diartikan sebagai rasa rela seorang
pemimpin untuk tidak berharta demi menciptakan kemakmuran rakyat
dan juga ‘menjemput’ masa depan yang gemilang. Pasalnya, tidak terbantahkan, kebanyakan pemimpin negara enggan membagikan hartanya kepada rakyat. Yang banyak
terjadi, justru malah sebaliknya. Begitupun diIndonesia, sampai saat ini belum
menemukan pemimpin ‘miskin’ yang selalu mengedepankan kepentingan bersama
dibanding hanya sekadar mencari kepuasan pribadi dengan ‘menyalahgunakan’
jabatan. Karena itu, tak ayal jika pemimpin seperti ini menjadi dambaan segenap
bangsa.
Jika pemimpin sudah berani hidup
miskin, dapat menjadi tolok ukur bahwa pemimpin tersebut tidak ‘gila’ harta dan
cacat moral. Dengan sikap seperti ini, pemimpin dapat pula dikatakan sebagai
pemimpin baik. Namun, tidak cukup hanya berbekal keberanian untuk hidup
asketis, melainkan juga harus tetap konsisten
antara kata dan perilaku dalam
keseharian, bersikap inklusif dalam bergaul dan berwawasan,
senantiasa inspiratif dalam ide dan gagasannya, dan juga mampu menyelesaikan masalah tanpa memunculkan masalah baru
yang mudharatnya lebih besar.
Tidak luput pula bersikap peka, siap, sergap, tegas, dan bijak dalam mengatasi problema
sosial.
Mengutip istilah John Emerich Edward Dalberg Acton atau yang
kerap disebut Lord Acton, menegaskan “Great man almost always bad”,
yaitu (orang besar hampir selalu buruk). Buruk dengan kata lain, tidak mementingkan
kesenangan semu, melainkan berpandangan futuristik dengan berbagai pertimbangan
dan konsep yang matang. Misalnya berani hidup miskin, asal rakyat makmur
sejahtera. Pasalnya, miskin belum tentu sengsara, kendati persepsi kebanyakan
orang, bahwa miskin merupakan nasib buruk dalam menjalani kehidupan. Selain
itu, miskin berkepribadian buruk, seperti sabar mengahadapi masalah yang belum
terentaskan, laiknya korupsi dan banjir.
Meneladani Umar bin Khattab
Mengutip sejarawan Inggris, Sir William
Muir, dalam bukunya, “Rise, Decline and Fall of the Caliphate” bahwa Khalifah
Umar merupakan sosok pemimpin kuat, baik aspek jasmani maupun rohani, ia juga sosok pemberani yang ditakuti oleh
semua musuh Islam kala itu. Dalam kepepimpinannya, Umar dapat disebut sebagai
pemimpin ‘miskin’, seperti miskin kegentaran dalam menghadapi musuh, miskin menutupi
kesalahan karena sempat kafir sebelum masuk Islam, miskin berbuat dzalim pasca
menjadi sahabat besar Rasulullah, dan miskin berbuat dosa dalam keseharian. Karena itu Umar bin Khattab menyandang julukan al-Faruq, yang berarti pembeda
antara yang hak (al-haq) dan yang
batil (al-bathil). Sikap
seperti ini lah yang mutlak harus dijiwai oleh seorag pemimpin. Sebab, dengan sikap
tersebut mampu menjadi mahligai sehingga ‘mematahkan’ keinginan negara lain
untuk merendahkan martabat bangsa.
Selain itu, mengutip Michael Hart
(2009), dalam buku “100 Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah”, Umar merupakan
salah satu khalifah terbesar yang paling berpengaruh di dunia. Terbukti dengan
keberhasilannya ‘memukul mundur’ Romawi dan Persia (dua negara adidaya saat itu) hanya dalam
kurun waktu 10 tahun, serta mengambil alih Syira, Irak, Iran, Palestina, Turki,
Mesir, dan Afrika Utara. Hal ini dikarenakan kegigihan dan keberaniannya dalam
membela Islam. Berdalih sejarah tersebut, dapat ditarik benang merah bahwa Umar
‘miskin’ sikap ketidakbisaan (jahil) dalam mempersatukan kekuatan
pasukan perang dalam konteks kenegaraan. Tuntasnya, sikap ini harus dimiliki seorang
pemimpin. Tanpa sikap tersebut, pemimpin tidak dapat menjalankan roda pemerintahan
dengan baik karena tidak bisa mempengaruhi orang lain untuk mematuhi
perintahnya.
Menyimak hal itu, sudah sepatutnya pemimpin negara Indonesia meniru kepemimpinan ala Umar bin Khattab. Hal ini
dapat dilakukan dengan cara: Pertama, menjadikan
kerja sebagai bentuk ibadah dan jabatan sebagai amanah. Memegang kekuasaan tertinggi dengan menyemat
fitrah manusia sebagai khalifah fi al-ard haruslah dijadikan sebagai wujud rasa
bersyukur karena dapat ‘mengembala’ rakyat ke arah yang lurus dan lebih baik. Karena
itu, kerja dan jabatan haruslah dapat dipertanggung jawabkan agar tercipta
kemaslahatan yang merata, bukan hanya sekadar kalangan tertentu. Senada
dengan ungkapan Prof. Dr. Matthias Lutz
Bachmann, bahwa pemimpin harus menciptakan keramahtamahan universal (cosmopolitan
right).
Kedua, berani hidup sederhana tanpa
fasilitas mewah. Bahkan, kalau perlu harta yang dimiliki turut dijadikan modal
menciptakan kesejehteraan rakyat. Karena mengingat Steven Covey pernah menyebut, Tuhan menciptakan manusia dengan dua
telinga dan satu mulut. Ini menjadi indicator bahwa pemimpin harus lebih banyak mendengar daripada berkata-kata. Senada dengan Cordia Harrington, Presiden dan CEO dari Tennessee Bun Company
menyebutkan, sebagai pemimpin agar mengutamakan untuk memahami lebih dulu,
dibanding keinginan untuk dipahami.
Ketiga, berani tegas dan bijak dalam menetapkan keputusan. Yang
salah tetap salah dan harus diperingatkan dengan lisan, jika belum mampan,
terpaksa diperingatkan dengan tindakan, begitupun yang benar, perlu
diperjuangkan. Mengutip Mary Jean Thornton, mantan CIO (Chief Information Officer) dari The Travelers, seorang pemimpin harus selalu dikejar rasa
keingintahuan. Hal ini dirasa dapat mendorong pemimpin menjadi orang yang haus akan informasi, dan tentunya dapat mengetahui mana yang
benar dan mana yang salah, sehingga berujung pada ‘ketidakgugupan’ dalam
bertindak.
Keempat, bergegas menyelesaikan segala permasalahan
dengan penuh tanggung jawab dengan disertai kematangan pandangan. Dengan kata lain, menyelesaikan masalah
dengan tidak gegabah akibat penuturan satu pihak. Karena itu, perlu penelahaan
lebih dalam dengan cara mendengar persepsi pihak lain. Mengutip Brian P. Lees, senator dari negara bagian Massachusetts AS, menyebutkan pemimpin harus menggali dan
"mendengar" dari sisi lain sehingga bisa melakukan tindakan yang
objektif, kendatipun harus berlabuh dengan rakyat biasa.
Kelima, berani menaklukkan visi dengan kemampuan mewujudkan ide-ide, membangun rencana yang terarah, dan berorientasi untuk hasil
terbaik di setiap waktu. Mengutip Debbe
Kennedy, President, CEO dan pendiri Global Dialogue Center and Leadership
Solutions Companies, menyebutkan bahwa dunia terus berubah. Maka, seorang
pemimpin harus menguasai perubahan dengan mengetahui secara pasti tujuannya. Bercermin Kevin Nolan, President & Chief Executive Officer dari Affinity
Health Systems, bahwa kesuksesan pemimpin dapat pula diukur dengan seberapa
besar kepercayaan rakyat menunggu visi pemimpin terwujud.
Dengan merealisasikan lima cara
diatas merupakan langkah awal untuk
memperbaiki citra dan jati diri seorang pemimpin. Dan tentunya tidak kalah penting sikap dasar yang harus
dimiliki adalah mampu bersikap benar (siddiq) dalam segala situasi dan
kondisi, cerdas (fathanah) dalam menetapkan kebijakan, amanah (amanah)
terhadap kepercayaan rakyat, dan menyampaikan (tabligh) apa yang
seharusnya didengar oleh rakyat. Dengan begitu, negara Indonesia tidak lagi
menyemat presikat miskin pemimpin ‘miskin’ . Wallahu a’lam bi al-shawab.
Dimuat di Koran Wawasan, 21 Februari 2015

