Oleh: Rizal Mubit*
Purnama menerangi langit sebuah desa di Ngawi.
Binatang-binatang malam berdendang ria merangkai melodi orkestra alam menepis
suara gesekan-gesekan dedaunan rindang. Seorang gadis bermata teduh mengintip
langit dari jendela kamar, menerawang jauh ke masa lalu. Tangannya memegangi
sebuah surat dari seorang ‘kakak’ yang tak terdengar lagi kabarnya. Sudah
berkali-kali surat kumal itu dibacanya. Berkali-kali pula dia menitikkan air
matanya.
Adikku Nur Fauzia yang kusayang
Kakakmu ini selalu saja merindu. Andaikan tak ada
kesabaran, barangkali akan kutusuk sekalian tubuhku dengan pisau agar rasa ini
tak menyiksaku.
Ada pesan tak penting dari kakak buat adik. Pertama,
adik masih nyantri, masih belajar, masih ngaji. Pergunakan waktu-waktu selama
di pondok untuk membaca, berdiskusi dan menulis. Tiga pilar itu akan berdampak
besar untuk pola berpikirmu dan akan mendidik kedewasaamu. Membaca, menggali
pengetahuan, berdiskusi, berbagi pengetahuan dan menulis, menyampaikan
pengetahuan.
Kedua, Kakak sama seperti adik, anak kampung
yang haus ilmu hingga kesana-kemari untuk mencari tetes-tetes air agar tenggorokan
ini tak lagi kering. Namun kehausan itu tak pernah hilang. Dan sehaus apapun
kita, ada konsekwensi logis bagi orang yang tubuhnya pernah dialiri air
pengetahuan, tak lain adalah untuk menyegarkan orang lain yang masih kehausan.
Kita harus melanjutkan perjuangan rasul. Aku ingin nanti kau bisa jadi sosok
Khadijah dan sosok Aisyah, pendamping setia rasul yang teguh dalam kondisi apa
pun. Sepertinya ini agak berat tapi kita masih muda, peluang besar untuk
mewujudkannya masih ada. Diantara jalan untuk mewujudkannya adalah dengan
tafaqquh fiddin, taqarrub ila Allah dan takhalluq bi akhlaqil karimah.
Ketiga, maafkan kakakmu, Dik. Yang mungkin kau anggap
lancang sebab suka berbicara tentang “masa depan”. Tapi memang itu yang
kuharap, serius. Kakak punya keyakinan bahwa takdir itu esensi yang
eksistensinya ada di tangan manusia. Maka inilah usahaku dengan mengenalmu
lebih jauh untuk sekedar tahu kekurangan dan kelebihanmu agar nanti dapat
kulengkapi itu semua. Untuk keseimbangan.
Sementara ini dulu lukisan hati yang dapat
kusampaikan.
Kakakmu, Hedi Widianto.
Zia pertama kali membaca surat itu saat masih kelas
tiga SMA. Tulisan-tulisan dalam surat itu menjadi petuah dalam kehidupannya
selama berada di pesantren hingga lulus kuliah. Namun ada satu poin yang tak
terpikir olehnya, tentang ‘masa depan’ yang dimaksud oleh Hedi.
Ketika surat itu ditulis, Hedi baru saja bergelar
sarjana dan akan melanjutkan studi ke Belanda. Ia ingin sekali melamar Zia
ketika datang dari Belanda. Hanya dia tak dapat langsung datang ke rumah Zia
karena jarak Ngawi-Semarang dan sebab waktu yang mendesak untuk segera ke
Belanda. Hanya surat itu yang mampu mengungkapkan isi hati Hedi.
Sayang Zia belum tahu-menahu masalah jodoh. Usianya
masih terlalu muda untuk berpikir sejauh itu. Sementara dia merasa masih ada
kewajiban lain yang harus ditempuhnya, menuntut ilmu. Hingga wajar saat itu dia
mengatakan tidak kepada Hedi.
Tapi apa, kini semua terjadi. Zia menyesali
perkataannya sendiri,“Mungkin suatu hari nanti, aku akan menyesal karena
telah menolak ketulusanmu untuk memilikiku.” dan sekarang, dia
menyesal. Penyesalan yang mendalam.
***
Memori kisah Lima tahun lalu tersimpan rapat dalam
ingatan Zia dan sering berputar tanpa diminta saat mata terpejam atau
kala diam.
“Tak hanya kamu yang masih studi, Zia! Aku juga! Aku
mau ke Belanda!”
“Aku hanya tak ingin nanti janji kita menjadi percuma.
Tak mudah menjalin hubungan jarak jauh, Kak.”
“Asal kita percaya saja, Dik!”
“Maaf, Kak. Sekali lagi, aku tak bisa.”
“Baiklah. Aku tak memaska.”
“Mungkin suatu hari nanti aku akan menyesal karena
telah menolak ketulusanmu untuk memilikiku.”
“Aku akan berusaha mempertahankan perasaan ini. Meski
mungkin, aku harus mencari gadis lain.”
Zia menangis lagi, menangisi keterpurukannya,
menangisi keegoannya. Ia merasa tak ada guna jadi sarjana tapi tak bisa
mengatasi masalahnya sendiri. Tak ada guna menjadi penulis ternama jika tak
mampu mengatasi cintanya sendiri. Semua hanya menjadi teori, lembaran usang tak
berguna.
***
Malam itu Hedi mendatangi makam Soekarno di Blitar
bersama seorang gadis berjilbab yang baru saja dinikahinya. Di bawah purnama
indah, Hedi bercanda dengan Naila, istri sekaligus putri Kiainya.
Naila, putri Kiai Muhson tak kalah cantik dengan Zia,
dua bulan lalu Hedi diminta langsung oleh Kiai untuk menikahi Naila. Sementara
waktu lima tahun tanpa ada janji bukan urusan mudah untuk bertahan dengan
kesendirian di tengah kematangan, kepandaian, ketampanan dan kharisma diri di
hadapan wanita.
***
Sejak lima tahun lalu, Zia belum membalas surat Hedi.
Dulu ia merasa tak perlu membalas surat itu karena sudah ada ponsel yang bisa
langsung digunakan untuk mengirim pesan. Tapi kini, Zia sudah menjadi penulis.
Dia menyadari ada kekuatan tulisan yang mampu mempengaruhi pembaca. Malam itu,
terlukislah sebuah luka hati dalam sebuah surat.
Maaf harus menunggu lima tahun untuk mendapat balasan
surat dariku.
Kak Hedi. Semua telah terjadi. Aku melakukan semua
nasehatmu. Aku kini jadi suka menulis, suka membaca dan tiada hariku tanpa
diskusi. Itu semua pintamu. Aku lulus kuliah memang tak mendapat yang terbaik
tapi aku sudah siap menghadapi hidupku karena buku yang pernah kau kirim
untukku.
Kak...... Aku belajar menghadapi hidup dan terus melangkah.
Gelar sarjanaku mungkin tak terlalu berpengaruh dalam kehidupanku saat ini karena
aku sudah menjadi penulis.Sebulan yang lalu, bukuku yang kelima telah terbit.
Hanya aku kini menghadapi persoalan pelik, Kak. Masalah
yang tak mampu kujawab dan hanya Kak Hedi yang mampu membantuku. Itu pun jika
Kak Hedi bersedia.
Kak, Aku harus percaya bahwa kini aku termakan
kata-kataku. Aku sangat menyesal telah menolak ketulusanmu. Dan kini aku hanya berharap satu
darimu. Janji suci yang ingin kau ucap dulu masih bertahta di hatimu.
Kak Hedi, aku minta maaf. Aku bingung, dengan
cara apa untuk menyampaikan harapku.Meskipun akhirnya aku memilih menulis surat
untukmu karena aku teringat pesanmu. Menulis surat bukanlah cara
klasik untuk menyampaikan sesuatu. Katamu, surat memiliki kekuatan besar dalam
menyampaikan sesuatu.
Sekali lagi, maafkan aku, Kak.
Adikmu, Nur Fauzia.....
***
Tiga hari, surat itu tiba sampai tujuan. Naila yang
pertama menerima surat itu. Selepas jama'ah Maghrib Naila memberikan surat itu
kepada Hedi.
“Mas, ada surat dari Nur Fauzia.”
“Tolong bacakan untukku, Sayang!”
Naila membuka dan membaca surat itu. Tak sampai
selesai, Hedi mendekati Naila.
“Biar aku yang melanjutkan!”
Hedi membaca dalam hati. Wajah Naila berubah.
Kecemburuan tersirat di matanya. Namun dia mencoba sabar dan tersenyum.
“Siapa, Mas?” tanya Naila setelah Hedi meletakkan
kertas surat.
“Zia, adikku.”
“Adik yang mana, Mas?”
Hedi menghela nafas. Diam
“Kok diam?” tanya Naila.
“Aku pernah berniat menikahinya. Tapi dia tak mau.”
“Bukannya sekarang dia mau. Kenapa tidak diajak
menikah lagi, Mas?” kata Naila.
Hedi diam, mencoba tersenyum.
“Kalau mas Hedi masih suka, tak apa kalau aku dimadu.
Abah kan juga istirnya tiga.” Naila mencoba menyembunyikan kecemburuannya.
Hedi tersenyum menatap keluguan Naila. Naila
merajuk ke pelukan Hedi.
“Aku sudah tak bisa mengikat cinta dengan perempuan
lain. Aku cukup teduh denganmu.” Hedi mencium kening naila.
Naila tersenyum, manis.
“Aku bukan Abahmu. Dan aku tak mampu mendua, sayang.”
Lanjut Hedi.
“Tolong ambilkan kertas. Biar aku membalas surat itu!”
Naila bangkit mengambil sebuah kertas dan pena. Hedi
mulai merangkai kata untuk Zia.
Pernahku menyimpan cinta, tertulis di lembar
kisah
Namun kau hilang tuk menjauh, pergi dan meninggalkan
cerita
Mendua aku tak mampu, mengikat cinta bersama denganmu
Maaf jika kau terluka saat aku memilih dirinya....
Maaf, aku sudah menikah, Dik.
Kakakmu, Hedi Widianto
***
Zia tersedu membaca surat balasan itu. Ia mengambil
sebuah kertas menulis sebuah puisi sembari menahan air mata penyesalan.
Kusesali semua salahku yang tak telah meninggalkanmu
Air mata kusimpan disana, jika kuingat tentang dirimu
Andai aku dapat menata jalanku, kan kucari jalan yang
tak bernestapa
Semoga hidupmu bahagia, Kak...
Salam untuk istrimu.....
Adikmu, Nur Fauzia

