![]() |
| Moch. Rosyad AR |
Kata “santri” dalam masyarakat sering
merujuk pada orang yang sedang mengkaji kitab suci dan memperdalam agama di
sebuah tempat yang benama pondok pesantren dengan bimbingan seorang Kyai.
Pakaian yang dikenakan santri sehari-hari, lazimnya, yaitu peci dan sarung.
Kedua hal ini seakan-akan menjadi ciri khas tersendiri yang menunjukan seorang
santri.
Pada era Revolusi Industri 4.0 yang terjadi
sekarang ini santri mendapat tantangan yang sangat luar biasa. Karena kegiatan
ekonomi industri akan terjadi secara besar-besaran. Jika santri tidak mampu
mengikuti revolusi yang terjadi maka eksistensi santri akan terpinggirkan oleh
orang yang punya harta.
Bukanlah sebuah alasan ketika seorang
santri tidak bisa memenuhi secara finansial karena kegiatan sehari-hari sibuk
mengaji dengan dalih orang yang berharta akan masuk syurga 40 tahun setelah
orang miskin (HR Muslim). Hal ini yang kemudian mereka anggap bahwa orang
miskin lebih mulia dari pada orang kaya dan konsep zuhud yang menganggap
ketidakbutuhan duniawi.
Jika
hipotesis penulis tersebut benar terjadi di masyarakat khusunya santri, maka
terjadi kesalahan enterpretasi hadist tsb. Karena konteks orang miskin pada
hadist ini adalah kaum muhajirin (kaum Mekkah yang hijrah ke Madinah) yang rela
meninggalkan harta-harta mereka demi hijrah bersama nabi. tentu mereka adalah
orang-orang yang lebih kaya dari siapapun karena harta yang sudah mereka miliki
berani mereka tinggal hingga membuat mereka hidup miskin. Jadi, mereka
membuktikan kehidupan dunia yang telah mereka genggam berani mereka tinggalkan
demi agama. Hal inilah konsepsi zuhud yang sebanarnya.
Selain hal itu agama islam juga
memerintahkan agar umat islam kaya. Terbukti dari hadist yang berbunyi ”Tangan di atas
lebih baik dari pada tangan dibawah, dan mulailah dari orang yang menjadi
tanggunganmu. Dan sebaik-baik sedekah adalah yang dikeluarkan oleh orang yang
tidak membutuhkannya. Barang siapa yang menjaga kehormatanya maka Allah akan
menjaganya dan barang siapa yang merasa cukup maka Allah akan memberikan
kecukupan kepadanya.”(H.R Muttafaq Alaih). Pada hadist ini
jelas bahwa seorang yang meberi itu lebih baik daripada yang menerima dan
sebaik-baik pemberi adalah orang yang tidak butuh. Jadi jelas dua hal ini tidak
dimiliki orang miskin. Karena bagaimana mungkin seorang miskin akan memberi
ketika untuk diri sendiri tidak punya dan bagaimanamau berbagi ketika diri
sendiri masih membutuhkan.
Salah satu tugas seorang santri ketika
lulus dari pondok pesantren adalah menyebarkan agama islam dan berdakwah.
Inilah sabilillah pada
negeri Indonesia sekarang bukan dengan senjata. Dalam tugas dakwah janganlah
dirasa tak perlu uang atau modal. Karena di lapangan permasalahan tak melulu
tentang agama tapi juga ekonomi. jadi ketika santri sudah mandiri dan mampu
ekonomi maka akan tahu cara menghadapi problematika ekonomi umat Bukan malah
menjadi beban umat. Wallahu ‘alan
bi al-showab. (*)
*Oleh: Moch Rosyad AR, Mahasiswa
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Walisongo

