Dewasa ini kehidupan remaja sering
kali mengalami penyimpangan akhlak. Tidak sedikit berita tentang kenakalan
remaja, mulai dari media massa hingga media siosial. Kenakalan remaja yang
terbilang biasa sebagai seorang remaja hingga masuk dalam kategori kriminal.
Sebagian besar kenakalan remaja diakibatkan oleh pencarian jati diri untuk
menonjolkan dirinya bahwa dirinya telah bertumbuh sebagai seorang yang harus
diakui keberadaannya.
Hendaknya seorang yang ingin membuat
dirinya diakui bukanlah menampakan dengan sesuatu yang buruk. Perlu adanya
penanaman tauladan yang baik, sebagaimana umat muslim yang mengenal Rasulullah
yang dikenal sebagai nabi penyempurna akhlak seperti hadits yang diriwayatkan
oleh Muslim “Sesungguhnya saya ini diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak
yang mulia.” Akhlak yang dibawakan oleh Rasulullah Saw telah menjadi suri
tauladan bagi semua umat muslim yang ada di dunia.
Kehidupan para remaja masa kini
sudah sepatutnya menjalaninya seperti Rasulullah. Sesungguhnya kehidupan
seorang remaja harus memiliki panutan yang merujuk pada diri Rasullah.
Sabagaimana yang telah dijelaskan dalam surat Al-Ahzab ayat 21, “Sesungguhnya
telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak
menyebut Allah”. (QS. Al-Ahzab 33:21).
Berdasarkan surah al-Ahzab tersebut
dapat disimpulkan bahwa panutan yang terbaik ada pada diri Rasulullah.
Kepribadian yang ada di dalam Nabi Muhammad Saw tentu akan menjadi rahmat bagi
siapa saja yang meneladaninya. QS. Al-Ahzab ayat 21 telah ditafsirkan
oleh Quraish Shihab dalam tafsir Al-Misbah bahwa bahwa terdapat nilai-nilai
keteladanan Rasulullah Saw. Diantara nilai yang terkandung, yaitu: Siddiq
(benar), Amanah (dapat dipercaya), Fathanah (cerdas/bijaksana), Tabligh
(menyampaikan.
Rasulullah Saw yang diutus sebagai
penyempurna akhlak tidak lepas dari keadaan lingkungan Rasulullah. Sebelum
rasulullah diutus masyarakat di Kota Mekah sedang dalam berada kondisi yang
dikenal dengan jahiliyah (kebodohan). Keadaan kaum yang berbuat zina, mabuk,
dan banyak hal lagi mengenai penyimpangan akhlak. Oleh sebab itulah Muhammad
diutus menjadi Rasul penutup yang menyempurnakan akhlak.
Akhlak Rasulullah adalah akhlak
Qur’ani yang termaktub dalam QS. Al-Qalam ayat 4 para musafir menafsirkan pada
diri Muhammad telah dididik olah Allah secara langsung sebagaimna sabdanya
“Allah telah mendidikku, maka sungguh baik pendidikan terhadapku”. Nabi
Muhammad tidak hanya menjadi suri tauladan bagi umatnya, Nabi Muhammad juga
menjadi tauladan bagi nabi-nabi sebelumnya.
Menjadi orang yang mengikuti suri
tauladan Rasulullah perlu ditanamkan sejak dini mungkin. Pendidikan pertama
adalah kelaurga jadi sejak berada di lingkungan keluargalah penanaman
nilai-nilai suri tauladan yang ada pada diri Nabi Muhammad Saw. Nilai-nilai
profetik kenabian yang saat ini dibutuhkan karena perlu adanya pendidikan yang
sudah ditanam sejak lahir. Menceritakan kisah-kisah Rasulullah adalah salah
satu bentuk untuk mengenalkannya pada anak-anak tentang suri tauladan
Rasulullah.
Terbentuknya nilai-nilai profetik
kenabian sejak dini akan membentengi seseorang untuk melakukan hal yang jahat.
Bahkan nilai-nilai profetik akan sangat penting untuk membangun dan menciptakaan
negara yang baik tanpa ada koruptor. Kesejahteraan masyarakat akan terjamin dan
bukan tidak mungkin menjadi negara yang maju.
Setiap yang dilakukan oleh
Rasulullah baik lisan maupun tindakan menjadi role model kehidupan umat Islam.
Pengaruh Rasulullah menjadi sangat kuat karena sejak kecil, remaja, hingga
menjadi seorang Rasul Nabi Muhammad selalu dapat dipercaya dan diberi gelar
Al-Amin. Reformasi akhlak yang dilakukan oleh Rasulullah melalui pendekatan
akhlak qur’ani dan pendekatan keteladanan mejadi penyembuh yang efektif.
Jika anak-anak yang terdidik dengan
pendekatan qur’ani maka bisa dipastikan anak-anak itu akan menjadi orang yang
dapat mempengaruhi kemajuan negara. Meneladani Rasulullah mulai dari memberikan
nilai-nilai ketauladanan Rasulullah. Pertama yang diajarkan adalah nilai
shiddiq (benar), yaitu berkata benar dan jujur kepada siapa pun. Anak-anak yang
dijamin kejujurannya harus sejak ditanam sejak lahir. Tidak hanya memeberikan
dalam bentuk perkataan, namun juga dalam segala tindakan terutama ketika
memberikan janji kepada anaknya.
Kedua, Tabligh (menyampaikan) yaitu
setiap Nabi dan Rasul selalu menyampaikan wahyu Allah kepada umatnya. Nilai
yang diambil adalah dengan mengajarkan kepada anak-anak untuk selalu memberikan
pertanyaan kepada anaknya. Pertanyaan tentang masalah yang terjadi pada anak
agar anak tersebut bisa belajar mengungkapkan masalah dan bercerita. Dengan
demikian anak-anak tersebut dapat memberikan paelajaran yang telah
didapatkannya kepada teman-temannya.
Ketiga, Amanah (dapat
dipercaya/jujur) yaitu belajar tidak mengecewakan orang/teman dekat. Ketika
seseorang yang diberikan amanah, janji dan jabatan tidak mengecewakan maka
akan mendaptakan respek. Sebagai orang tua yang mengajari nilai ini bisa
dilakukan dengan selalu menempati waktu yang telah dijanjikan bersama anaknya.
Keempat, Fathanah (cerdas/bijaksana)
yaitu mendidik anak dengan cara mengajak menyelesaikan masalah bersama.
Mengarahkan anak untuk selalu memilih jalan yang bijaksana ketika menyelesaikan
masalah. Tidak hanya sekedar cerdas dan bijakasana, manajemen waktu juga dapat
menjadi nilai yang penting bagi anak-anak.
Menanamkan nilai-nilai suri tauladan
Rasulullah sejak dini sangat diperlikan untuk membentengi diri saat tumbuh
dewasa. Nilai-nilai tauladan yang telanh memberikan pengaruh bagi umat Islam
selalu menjadi panutan. Mulai dari perkataan hingga tindakan yang Rasul lakukan
menjadi role model kehiduapan yang dirindukan umat. Wallahu a’lam
bi al-shawab.
Oleh: Mochamad Faqih, Disciple MI angkatan 2018

