“Tidaklah sama antara kebaikan dengan kejahatan.
Tolaklah kejahatan dengan sesuatu yang lebih baik, maka orang yang ada
permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia.” (QS.
Fushilat: 34)
Layaknya
istilah ‘api janganlah dibalas dengan api, tapi berilah air maka ia akan
tenang’. Dalam ayat di atas, kita dilarang untuk membalas kejahatan dengan hal
yang serupa, akan tetapi dengan cara yang baik. Dengan begitu, lambat laun
lawan akan sadar sehingga akan perbuatan mereka dan berpihak pada kubu kita
sehingga menjadi kawan.
Antara
kawan dan lawan, kita bisa mengambil pelajaran dari kisah Muhammad SAW dan
Jengis Khan yang keduanya masuk dalam deretan di antara seratus orang paling
berpengaruh di dunia yang ditulis Michael H. Hart dalam bukunya “The 100”.
Keduanya begitu legendaris dalam sejarah umat manusia. Sebagaimana yang kita
tahu bahwa Muhammad adalah seorang nabi yang membawa kebenaran, kebaikan, dan
rahmat, sedangkan Jengis Khan adalah tentara Mongolia yang terkenal sangat
bengis. Ada sedikit peran keberhasilan mereka yang sama. Mereka adalah jenderal
peperangan yang tangguh dan cerdik dalam menyusun strategi juga taktik sehingga
mampu menoreh keberhasilan menaklukkan daerah pusat peradaban. Masing-masing
punya binatang andalan dalam berperang. Muhammad SAW selalu ditemani untanya dan
Jengis Khan ditemani kudanya.
Berdasarkan
sejarah yang mengisahkan bagaimana perjuangan mereka, kita bisa tahu begitu
hebatnya dua jenderal ini. Namun, jika dilihat dari sudut pandang sampai kini
terdapat titik yang sangat kontras antara keduanya. Coba perhatikan pengaruh,
dampak, atau jejak peninggalan dari perjuangan mereka dahulu. Menyoal Muhammad
SAW yang namanya sering dipuja-puja umat Muslim bisa dijadikan bukti dhahir
kebesarannya. Sepeninggalnnya, daerah Islam semakin meluas dan ajarannya bahkan
mendunia mengikuti berjalannya waktu.
Pantas,
jika Muhammad menduduki posisi pertama di antara puluhan tokoh dunia. Bagaimana
tidak? ia melakukan perjuangannya dengan konsisten dan menuai keberhasilan yang
bisa kita rasakan sampai sekarang yaitu dengan adanya Islam dan petunjuk
alquran. Selain itu, ia juga memainkan peranan penting menjadi seorang pemimpin
dan sumber kekuatan di balik berbagai penaklukan Arab oleh Islam pada abad
ketujuh yang menjadi sejarah peradaban manusia sampai sekarang.
Lalu,
bagaimana Jengis Khan? Dalam berbagai catatan sejarah, ia dikenal sebagai orang
yang paling berpengaruh karena capaian prestasi militernya dalam penaklukan
wilayah Asia dan Eropa pada abad 13. Penaklukan yang luar biasa ini bisa
dikatakan setara dengan penaklukan Arab yang dipimpin oleh Muhammad SAW. Meski
begitu, ia menempati urutan kedua puluh satu dalam buku “The 100”. Ia juga
dikenal sebagai pemimpin yang sadis, kejam dan berhati bengis, berbeda dengan
Muhammad. Sehingga upaya penaklukan yang dilakukan Jengis Khan hanya akan
mengumbar nafsu kekejaman dan hancurnya peradaban. Itulah yang menyebabkan
bukti capainnya tak permanen atau tak dapat dipertahankan sampai sekarang.
Sebaliknya,
Muhammad SAW justru membawa manusia bebas dari jeratan belenggu kebodohan dan
kegelapan. Ia membawa ajaran baru yaitu Islam dan menyampaiaknnya kepada
manusia dengan penuh cinta kasih tanpa kekejaman. Meski agama baru tapi
ternyata Islam kian diikuti banyak orang termasuk kelompok anti peradaban dan
paling sadis yang membenci Islam.
Jengis
Khan dan pasukannya sangat memebenci ajaran Islam. Upayanya pun begitu keras
untuk memporak-porandakan dunia Islam. Sehingga lambat laun umat Islam jauh
dari kejayaannya. Kala itu, secara militer dan fisik umat Islam berhasil
ditaklukkan Jengis Khan tapi tak bertahan lama. Umat Islam mendapat kesempatan
mendakwahi mereka dengan alquran, iman, dan cinta kasih. Hidayah Allah
menghampiri mereka. Siapa sangka tiba-tiba Islam dengan mudah diterima hati
mereka tanpa peperangan dan pada akhirnya mereka tunduk dengan petuah para
ulama dan menjadi saudara. Pada dasarnya, kekuatan cinta kasih itu ternyata
mampu menaklukan kekejaman. Wallahua’lam
bi al-shawwab..
Oleh: Uswatun Khasanah

