Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang unik dengan beragam suku,
budaya, adat istiadat maupun bahasa. Setiap bagian dari keunikan tersebut
memiliki identitas dan konsepsi tersendiri. Seperti halnya bahasa yang memiliki keunikan tersendiri, yakni mampu mempresentasikan penuturnya, baik
itu sikap, cara pandang ideologi, serta seluk beluk lain mengenai sang penutur.
Bahasa merupakan produk kebudayaan manusia yang universal nan unik, serta
keberadaannya bagaikan setiap sel sendi manusia.
Seorang filsuf jerman, Willem
Von Humbolt mengemukakan bahwa “language its very nature represent the spirit
and national character of a people”, yang artinya bahasa adalah
representasi semangat alami dan karakter nasional masyarakat. Humbolt
berkeyakinan bahwa setiap bahasa di dunia merupakan perwujudan dari masyarakat
penuturnya, begitu pula dengan bahasa jawa yang yang mencerminkan kebudayaan
masyarakatnya.
Bahasa jawa merupakan bahasa daerah terbesar di indonesia dengan
75.500.800 penutur, yang secara otomatis membuatnya bertengger pada peringkat
ke-11 di dunia. Otomatis, kondisi ini menunjukkan jika bahasa Jawa, hingga era
yang disebut sebagai globalisasi ini, masih memiliki jumlah pelestari yang tak
boleh dipandang sebelah mata. Bahasa jawa tidak hanya digunakan oleh masyarakat
jawa saja, banyak masyarakat di penjuru dunia yang terpikat dengan bahasa jawa
dan berbondong-bondong untuk mempelajarinya. Sehingga tak mengherankan bahasa
jawa menjadi bahasa yang sering dituturkan baik di indonesia maupun di negara
tetangga.
Keunikan
bahasa jawa
Bahasa jawa memiliki keunikan tersendiri, yakni di setiap daerahnya
memiliki karakteristik yang tiada duanya, meliputi pengucapan atau dalam bahasa
inggris disebut pronounciation, serta keunikan bahasa yang tidak bisa ditranslate. Itulah
mengapa masyarakat di negara tetangga seperti Republik Suriname, Belanda,
Malaysia, Singapur, dll. Tertarik menggunakan dan memepelajari bahasa jawa
lebih dalam.
Sayangnya, penggunaan bahasa Jawa
dewasa ini, kerap berjalan di luar konteks yang semestinya. Penutur mulai tidak
bisa membedakan dengan siapa lawan bicaranya, penutur mulai mengalami gagap
kosakata ketika akan ditujukan pada lawan bicara yang lebih tua. Atau, menukar
kosakata yang semestinya untuk yang lebih tua, menjadi ditujukan untuk diri
sendiri. Yang kedua ini juga cukup membuat saya tergelitik untuk membenarkan.
Sepert, mengenakan kata “dhahar” untuk menyebut jika dirinya sudah makan,
“siram” untuk menunjukkan jika dia sudah mandi, dan masih banyak
kosakata-kosakata yang tertukar tidak pada tempatnya.
Namun realitanya, masyarakat Jawa
yang seharusnya lebih menjaga kelestarian dan kelangsungan hidup bahasa Jawa di
komunitasnya sendiri, terkadang enggan menggunakan bahasa jawa dengan berbagai
alasan. Mereka cenderung menggunakan bahasa indonesia sebagai percakapan
sehari-hari, mereka lebih senang menggunakan istilah bahasa asing yang mereka
anggap bisa meningkatkan gengsi, bahkan parahnya kini para remaja sedang
gencar-gencarnya menggunakan bahasa-bahasa alay, yakni bahasa yang tidak
sesusai dengan kaidah bahasa itu sendiri. Sebaliknya, berbicara menggunakan
bahasa Jawa, mereka anggap jadul, kampungan serta tidak up to date.
Hal itu disebabkan oleh gencarnya serbuan beragam budaya asing dan
arus informasi yang masuk melalui bermacam sarana seperti televisi dan
lain-lain. Pemakaian bahasa gaul, bahasa asing dan bahasa seenaknya sendiri
(campuran jawa indonesia english) juga ikut memperparah kondisi bahasa Jawa
yang semakin lama semakin surut ini di Jawa. Betapa tidak, pelajaran bahasa
Jawa yang dulunya merupakan pelajaran wajib sekarang hendak (bahkan sudah
mulai) dihilangkan dari daftar mata pelajaran sekolah.
Guna mengatasi problem tersebut, solusinya adalah dengan memperat tiga lingkungan pendidikan, yakni lingkungan keluarga, sekolah serta, masyarakat yang memegang peranan penting dalam mengenalkan serta mempraktekkan penggunaan bahasa daerah sebagai upaya pelestarian bahasa daerah, yakni bahasa jawa.Upaya penanaman nilai-nilai yang terkandung dalam budaya daerah dapat menimalisir adanya dampak negatif dari pengaruh budaya asing, serta pengajaran materi bahasa jawa pada sekolah dini, seperti TK, SD, dll. Serta berlanjut pada tingkat selanjutnya, tidak berhenti pada tingkat SD saja.
Sebagai penduduk original pemilik
bahasa jawa, seharusnya masyarakat indonesia lebih mencintai bahasa sendiri
dantidak menggunakan bahasa-bahasa asing, apalagi bahasa alay. Masyarakat harus
langkah seribu agar bahasa jawa tidak lagi diambil alih atau diakui warisan
budaya lain, seperti halnya nasib batik dan wayang. Jangan sampai hal tersebut
terulang lagi di Indonesia.
Pemerintah sebaiknya menghapus
kebijakan, meniadakan bahasa jawa pada kurikulum siswa. Karena hal ini akan
membuat para generasi penerus tongkat estafet bangsa akan canggung dengan
bahasa nya sendiri dan akan lebih terbiasa dengan bahasa negeri asing. Jika hal
ini terjadi maka tiada lagi keunikan indonesia di mata negeri asing. Pemerintah
seharusnya menggalakkan sistem wajib pelajaran bahasa jawa pada semua tingkatan
pendidik,mulai dari paud, tk, sd, bahkan sampai tingkat pergruan tinggi
*Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Jurusan Pendidikan
Bahasa Inggris

