Kekerasan Anak; Membunuh Masa Depan

Monash Media
0

Oleh: Ainiyatus Solihah*

Indonesia merupakan negara yang padat penduduknya. Hal tersebut dapat dilihat dari pertumbuhan penduduk yang selalu meningkat setiap tahun. Peningkatan jumlah yang tidak terkendali tersebut membuat pemerintah harus memilki strategi jitu agar tidak terjadi ketimpangan sosial. Seperti program yang telah digalakkan oleh pemerintah yaitu, program KB (Keluarga Berencana). Sebab, pada masa dulu telah ada keluarga yang memiliki banyak anak, tapi mereka kesulitan untuk mengurus.
Program KB yakni program pemerintah yang dibuat dengan tujuan untuk mengurangi membludaknya jumlah penduduk, sepertinya dirasakan berhasil oleh sebagian masyarakat. Pasalnya, mereka akan merasa lebih enteng dalam membiayai hidup keluarga mereka yang hanya terdiri dari ayah, ibu, dan cukup dengan dua orang anak. Hal itu pula yang membedakan dengan keadaan di zaman dulu, dalam satu keluarga saja biasanya terdiri lebih dari sepuluh bahkan sebelas anak.
Namun, di era yang semakin ‘edan’ ini, program KB dirasa kurang signifikan oleh sebagian masyarakat lain. Sebab, meskipun hanya memilki dua orang anak saja, mereka masih menganggap hal itu adalah beban. Maka, tak jarang lagi dari mereka yang secara terus terang tega menjadikan anak sebagai korban kekesalan mereka, dan tidak lain adalah dilihat dari sisi ekonomi.
Faktor ekonomi merupakan hal yang sangat signifikan dan berpengaruh bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Sebab, mereka menganggap bahwa hidup itu harus dijalani dengan uang. Maka, sering sekali didapati tindak kekerasan anak yang terjadi ketika keluarga tersebut mengalami kekeringan ekonomi. Padahal, pada dasarnya itu adalah kesalahan mutlak dari orang tua yang tidak mau berusaha menghidupi keluarganya.
Terkadang, tak jarang juga terdapat orang tua yang malah tega menyuruh anaknya untuk mencari nafkah. Orang tua yang semacam ini menganggap bahwa mereka dikaruniai anak bukan untuk dicintai ataupun disayangi, tetapi hanya untuk dijadikan pekerja atau seorang budak. Sehingga, dengan mudah mereka memberikan kekerasan yang berupa batin dan membuat anak mereka menjadi kurang terdidik.
Banyak dampak yang disebabkan oleh kekerasan orang tua terhadap mereka, diantaranya yaitu dampak fisik. Kita ketahui bahwa tak jarang hal-hal atau bekas yang tertinggal setelah orang tua melakukan tindak kekerasan terhadap anaknya. Dampak yang sering terjadi adalah kulit mereka menjadi melepuh karena bisa saja orang tua mereka menyiram dengan air mendidih atau hal lainnya. Sehingga, para anak dapat mengalami guncangan yang sangat serius atau yang bisa disebut sebagai sindrom guncangan bayi. Maksudnya adalah guncangan tersebut dapat mengakibatkan tekanan intrakranial, pembengkakan otak, cedera difus aksonal, dan kekurangan oksigen yang mengarah ke pola seperti gagal tumbuh, muntah, lesu, kejang, pembengkakan atau penegangan ubun-ubun, perubahan pada pernapasan, dan lainnya.
Selain itu, anak juga akan mendapati dampak yang juga sangat serius, yaitu psikologis. Seorang anak yang mendapat tekanan atau marahan dari orang tua, mereka akan cenderung meniru perilaku tersebut. Sang anak akan mudah marah apalagi kepada teman mereka sendiri, karena otak mereka telah disuply oleh perkataan yang jelek-jelek, mereka juga akan memiliki rasa kurang percaya diri, kesulitan membina persahabatan, perilaku merusak, menarik diri dari lingkungan, penyalahgunaan obat dan alkohol, ataupun kecenderungan bunuh diri.
Sehingga, memang sangatlah penting mendidik anak dengan sewajarnya saj tanpa harus dengan adanya tekanan. Sebab, anak masih memiliki jiwa yang sangat labil dan otak mereka dapat dengan mudah menerima hal-hal buruk yang dapat menghambat proses pertumbuhan pola pikir mereka. Apalagi mereka adalah para kader yang harus disiapkan untuk meneruskan perjuangan mengelola negara. Apa jadinya jika bibit-bibit negara yang masih seumur jagung telah ternodai oleh masalah yang menyangkut masa depan mereka dan negara.
Maka dari itu, pemerintah dan orang tua pada khususnya harus membantu anak-anak mereka dalam mempersiapkan hal yang terbaik dalam menata masa depan negara yang sudah carut marut ini. Apalagi jika bibit-bibit negara tersebut ternodai dan tidak tumbuh yang dapat mengakibatkan lebih rusaknya negara Indonesia ini. Pemerintah juga harus selalu waspada dan berusaha agar kekerasan pada anak tidak selalu bertambah setiap tahunnya. Wallahu a’lam bi as-Showab. (*)
* Mahasiswi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Walisongo Semarang, Pengajar di PAUD Islam Mellatena dan TPQ Bina Insani Semarang
 

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
5/related/default