![]() |
| MOKHAMAD ABDUL AZIZ* |
“Sore telah berlalu dan kita menunggu pagi.
Pagi adalah awal. Pagi adalah kesegaran. Pagi adalah semangat. Wawasan terbit
pagi, lebih awal, lebih segar, lebih bersemangat, nantikan esok pagi, Senin 10
Januari 2011. (Koran Sore Wawasan, 9 Januari 2011).
Lima tahun yang lalu, yaitu ketika “Wawasan” memutuskan
untuk pindah waktu terbit menjadi pagi hari, penulis menjadi pembaca aktif
Koran Pagi Wawasan, sebuah surat kabar yang sampai saat ini selalu menemani
hari-hari penulis untuk menghadapi dinamika hidup yang butuh akan infromasi. Sesuai
dengan akhir pesan di atas pada koran sore Wawasan 9 Januari 2011, harian ini
membuat hidup penulis lebih bersemangat, hingga saat ini.
Bertepatan di tahun 2011 tersebut, penulis menginjakkan
kaki di Kota Semarang untuk melanjutkan studi di Institut Agama Islam Negeri
Walisongo Semarang (sekarang UIN). Bukan IAIN yang membuat penulis menggemari
Koran Wawasan, melainkan Monash Institute Semarang (MIC), sebuah lembaga
nirlaba yang didirikan oleh Dr. Mohammad Nasih al-hafidh untuk melahirkan
pemimpin-pemimpin bangsa masa depan.
Berkenalan dengan Koran Wawasan
Semenjak menjadi disciples MIC, sebutan untuk
kader Monash Institute, hampir tiada hari yang penulis lewatkan untuk membaca
Koran Wawasan. Bahkan, setiap kajian bakda shalat Shubuh, penulis dan disciples
lain tidak sabar menunggu kedatangan loper koran, sekalipun kajian
itu belum selesai. Para disciples, yang kebanyakan berasal dari
pedesaan, awalnya menang “dipaksa” untuk membudayakan membaca, termasuk
infromasi terhangat yang melingkupi kehidupan masyarakat Indonesia, terutama
Jawa Tengah. Maklum, budaya membaca surat kabar tidak begitu terlihat di desa.
Karena itulah, para mentor MIC sengaja memilih Koran Wawasan sebagai surat
kabar langganan yang patut untuk dibaca, tentu saja dengan berbagai
pertimbangan.
Budaya Membaca
Halaman demi halaman yang disajikan oleh Koran Wawasan tidak
luput dari pengamatan dan pembacaan para disciples. Rata-rata mereka mempunyai minat baca
tinggi. Meski ada 25 disciples yang harus bergantian membacanya, tetapi tidak jadi
persolan. Justru hal itu menjadi suatu aktivitas yang seru lagi mengasyikkan. Tidak
jarang, mereka berebut untuk membaca pertama kali, hingga akhirnya satu Koran
Wawasan dibagi-bagi perlembar-halaman yang masing-masing disciples sukai.
Mereka yang gemar bola, termasuk
penulis, tidak luput menyerbu rubrik Sport yang menyajikan berita-berita
olahraga dengan tampilan yang lebih elegan. Maklum, di MIC tidak ada televisi.
Selain itu, para disciples juga tidak diperkanankan untuk menonton TV
selama proses kaderisasi berlangsung. Ini dilakukan agar tidak menggaggu
konsentrasi belajar. Karena itulah, mereka, memanfaatkan rubrik Sport Koran
Wawasan untuk mengetahui apakah tim jagoan mereka menang atau kalah. Keadaan
ini juga berlaku bagi mereka yang gemar fashion, perkembangan teknologi, dunia
artis, dan lain-lain.
Disciples yang kebanyakan berasal dari daerah-daerah
di Jawa Tengah (Jateng) juga mencari rubrik-rubrik yang memuat daerahnya.
Mereka ingin mengetahui berita terbaru apa yang ada di daerahnya. Rubrik-rubrik
daerah yang disajikan kala itu (2011), sebut saja Salatiga-Ambarawa-Ungaran,
Kendal-Demak-Grobogan, Lintas Timur, dan Lintas Barat menjadi
santapan pagi yang menambah semangat. Meski kini beberapa rubrik itu telah
berganti menjadi Jateng Region, tetapi secara subtansi tidak mengubah muatan
daerah dicari disciples.
Selain berita lokal, para disciples
juga ditekankan agar membaca berita-berita nasional terbaru. Tujuannya tidak
lain adalah untuk mengetahu situasi terkini bangsa Indonesia, yang akan mereka
pimpin di masa yang akan datang, sebagaimana tujuan didirikannya MIC di atas.
Sikap dan nalar kritis disciples diuji lewat pembacaan berita. Tidak
jarang, diskusi-diskusi mengenai kabar terbaru dilakukan untuk menemukan solusi
atas permasalahan yang muncul. Ini memaksa mereka untuk berpikir keras.
Menjadi Teman Belajar
Diskusi-diskusi itu sering menimbulkan
perbedaan pendapat di kalangan disciples, sehingga mereka lebih kaya
wawasan dan pemahaman terkait isu nasional. Berangkat dari diskusi-diskusi
tersebut, para disciples diminta untuk menuliskannya ke dalam bentuk deskripsi
yang bisa dipahami. Koran Wawasan yang menyediakan reubrik Opini (pada 2011
bernama Opini dan Features), menjadi salah satu tujuan tulisan itu dikirimkan. Mereka
pun berlomba-lomba mengirimkan artikel hasil karyanya ke redaksi Koran Wawasan.
Selain kolom Opini, dahulu di halaman
dalam Koran Wawasan juga menghadirkan Rubrik Rerasan yang memberikan kesempatan
pembacanya untuk berkomentar tentang permasalahan yang sedang hangat di tengah
masyarakat yang dikirimkan melalui akun Facebook Koran Wawasan. Penulis masih
ingat betul ketika salah satu teman bernama Rina Rosia hampir setiap hari
mengisi rubrik Rerasan tersebut. Tentu saja ini semakin memacu para disciples
untuk belajar menulis, terlebih penulis sendiri. Belajar menulis ini memiliki
banyak manfaat. Mulai dari mengasah logika lewat kata-kata, menuangkan gagasan
ke dalam bentuk tulisan, hingga benar-benar membuat seoarang yang menulis
memikirkan pelbagai persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia saat itu jua. Di
situlah proses belajar seorang penulis diuji.
Dipandu langsung oleh Dr. Mohammad Nasih (Dosen Ilmu
Politik UI), Muhammad Abu Nadlir, S. Th. I (Mahasiswa Pascasarjana Undip), dan
Misbahul Ulum (mahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)—yang kesemuanya
itu juga aktif menulis di Koran Wawasan—masih hangat dalam ingatan penulis
ketika pertama kali tulisan Mokhamad Abdul Aziz dimuat di Kolom Opini. Rasanya
sangat luar biasa. Hal itu tidak pernah dibayangkan oleh penulis semasa kecil,
dimuat oleh sebuah surat kabar terkenal di Jawa Tengah.
Keinginan penulis untuk mempelajari kehidupan
lewat dunia tulis-menulis semakin kuat, mengingat hal itu sangat sinergis
dengan perkulaian di Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Melalui dakwah bi
al-qalam, harapannya ada gagasan yang mecerahkan umat dan bangsa. Dimulai
dari menulis di Koran Wawasan, yang kemudian merambah ke media-media lain,
bahkan saat ini penulis juga sedang menulis buku. Di sinilah, Koran Wawasan
menjadi teman belajar yang sangat menyenangkan. Teman yang bukan sekadar teman.
Juga tidak menjadi teman yang menjerumuskan, melainkan teman yang mencerdaskan.
Berdasarkan realitas itu, Koran
Wawasan bisa menjadi sumber inspirasi sekaligus memberikan wawasan yang mencerdaskan
bagi masyarakat, terlebih akademisi di perguruan tinggi. Selamat ulang tahun yang ke-30, semoga slogan ’’Cerdas
Mengupas” bisa terus mengilhami Koran Wawasan dalam menjalankan peran sebagai salah
satu pilar demokrasi untuk membangun negeri. Tidak hanya cerdas dalam mengupas
masalah, tetapi juga mencerdaskan para pembaca. Wallahu a’lam bi al-shawaab.
*Disciple Monash Institute, Mahasiswa Program
Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang.

