Rupiah Semakin Gundah

Monash Media
0


Arif Fatan Robi*

Stabilitasan ekonomi yang saat ini mulai terganggu, merupakan tragedi menakutkan bagi kehidupan bangsa Indonesia. Pasalnya, bangsa Indonesia yang tujuh puluh tahun telah merdeka, kondisi ekonominya masih tetap rendah dan jauh dari apa yang dicita-citakan.  Yaitu menjadi negara sejahtera dan maju. Mengenai apa yang terjadi dan saksikan saat ini, menggambarkan bahwa zaman globalisasi di Indonesia saat ini, sama halnya dengan masa penjajahan kompeni dimasa lalu. Yang membedakan hanyalah bentuk atau wujud dhahirnya saja.
Dulu, pendudukan fisik dan militer Belanda merebut kemerdekaan, kemandirian, dan kedaulatan bangsa Indonesia. Sedangkan sekarang ini, pendudukan fisik dan militer  warga asing secara resmi tak lagi berkuasa dipemerintahan. Namun apa tidak disadari bahwa negara tercinta ini telah kehilangan kendali atas  kedaulatan?.Ditinjau dari berbagai hal, ternyata bangsa Indonesia masih tergantung dan menggantungkan diri pada kekuatan asing.Apalagi dalam era globalisai yang arusnya mengalir deras dan tak terbendungkan. Indonesia yang telah terseret arus globalisasi, membawa bangsa Indonesiapada fase ketergantungan.
Bangsa Indonesia saat ini hanya bisa berperan sebagai subordinat atau agen setia bagi kepentingan asing saja. Salah satu indikasi yang diakibatkan oleh peristiwa tersebut adalah ketidak stabilitasan ekonomi.Lemahnya nilai tukar rupiah yang saat ini sudah menembus hingga angka Rp 14.706 per dollar AS (Koran Media Indonesia:30 September 2015) menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia saat ini telah kritis. Dari  kasus tersebut, rupiah sebagai mata uang yang digunakan transaksi oleh warga indonesia seolah sudah tidak ada “ajine” bila dibandingkan dengan dollar.
Dampak yang terpaksa harus dirasakan oleh bangsa Indonesia saat ini adalah kehidupan masyarakat Indonesia yang semakin amburadul.Disisi lain, ketidak stabilan ekonomi yang terjadi di Indonesia saat ini juga mulai berdampak  pada perusahaan besar. Perusahaan yang mulanya sedang gencar-gencarnya mengembanggkan usaha, kini terasa terhalangdan tersendat. Masalahnya,tidak sedikit perusahaan yang saat ini memakai bahan baku inpor dari manca negara.  Sedangkanmenengok kondisi rupiah yang saat ini sedang drop, menyebabkan pengusaha sulit untuk menjalankan dan mengembangkan usahanya.
Jika toh usaha mereka bisa eksis dan bertahan, namun bisa dipastikan pendapatan dan penghasilan yang mereka raihtentu mengalami penurunan drastis. Bahkan bisa dibilang bangkrut.Sehingga pemutusan tenaga kerjapun terpaksa dilakukan perusahaan agar perusahaan tersebut tidak berujung pada gulung tikar. Kejadian tragisyang selanjutnya terjadi adalah banyak karyawan yang pulang kampung dan terpaksa menjadi pengangguran.
Hal yang menjadikeresahan dan masalah yang cukup dasyat bagi bangsa Indonesia saat ini adalah jumlah pengangguran yang kian amat membludak dan tak terkendali. Padahal, dalam konstitusi dijelaskan dengan gamblang bahwa, eksitensi bangsa dan negara yaitu bertugas untuk memajukan kesejahteraan masyarakat berlandaskan kemardakaan, perdamaian abadi dan kadilan sosial.
Juga yang menakutkan dan memprihatinkan dari kehidupan bangsa Indonesia saat ini adalahjumlah hutang bangsa Indonesia kepada bank dunia yang semakin tinggi. Hal ini disebabkan oleh sistem pemeritahan yang tidak terbuka dan tidak adanya penindak lanjutan dari problem pemerintahan sebelumnya. Akhirnya, pelonggaran anggaran belanja negara kian jebol dan tak terelakkan. Alhasil, Indonesia yang memiliki “penghasilan” dari dalam negeri merasa kurang dan terpaksa harus hutang kepada negara lain untuk memenuhi kebutuhan bangsa Indonesia.
Sungguh hal demikian ini sangat kontra dan tak rasional. Pasalnya Indonesia yang digembar-gemborkan memiliki sumber daya alam (SDM) yang melimpah ruwah, justru tidak mampu mengolahnya untuk menuntaskan  kebutuhan dalam negeri sendiri, apalagi mau dieksport ke luar negri. Mengamati hal yang demikian, seolahbumi nusantara inipantas dijulukisebagai “negara kaya namun tak berdaya”. Kata tersebut memang bukan sekedar opini belaka. Sejak indonesia menyatakan diri sebagai negara yang telah merdeka, hingga saat ini masyarakat Indonesia belum mampu sepenuhnya mengelola kekanyaan yang dimilikinya.
Permasalah semacam ini harus dilawan dan tidak boleh dibiarkan terlalu lama berlalu lalang di bumi pertiwi ini. Karena itu semua menyangkut kehidupan masyarakat dan martabat bangsa Indonesia, untuk menjadi negara baldatun tayyibatunwarabbun ghafur. Oleh karena itu, pemerintah seharusnya sudah jauh-jauh hari merencanakan strategi untuk mengantisipasi dampak globalisasi dan harus segera mencari solusi untuk mendongkrak kondisi ekonomi yang sudah terjadi saat ini.
Pengelolaan sumber daya alam maupun sumberdaya manusia lah yang sebenarnya menjadi solusi untuk permasalahan saat ini. Peningkatan kwalitas masyarakat dan pemaksimalan pengelolaan sumber daya alam, merupakan jalan alternatif menuju puncak kesejahteraan yang telah lama dirindukan. Untuk itu, peranan kwalitaslah yang kini perlu dan harus dirintis untuk dibangun agar tercapainya cita-cita bangsa Indonesia yang besar serta mulia. Wallahu a’lam bi Al-shwab.

 * Mahasiswa jurusan Tafsir dan Hadits Fakultas Ushuluddin UIN Walisongo Semarang dan Mahasantri Monash Institute





Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
5/related/default