Mengembalikan Idealisme Mahasiswa

Monash Media
0

Anis Sa'datur Rohmah*

Mendengar kata mahasiswa tentu tidak asing lagi. Kata tersebut menjadi sebutan akademis untuk seorang pelajar yang levelnya lebih tinggi dari siswa atau murid. Kata Mahasiswa terdiri dari dua akar kata, yakni “Maha” yang berarti (sangat, amat, teramat) dan “Siswa” yang berarti (murid, pelajar). Jadi arti dari kata Mahasiswa adalah seorang murid yang memiliki kedudukan dan derajat yang sangat tinggi.
            Menjadi mahasiswa merupakan sebuah kesempatan, tidak semua orang mendapat kesempatan yang sama. Masih banyak orang di luar sana yang kurang beruntung. Maka, mereka yang beruntung seharusnya dapat memanfaatkan kesempatan dengan baik karena kesempatan tidak akan datang dua kali, kecuali jika ingin menjadi mahasiswa abadi untuk selamanya.
            Pada hakikatnya, mahasiswa merupakan insan akademis yang mempunyai pemikiran kritis, demokratis, dan konstruktif. Kritis dalam arti memiliki kepekaan dan kepedulian sosial serta berani menyatakan kebenaran terhadap penerapan suatu ketentuan peraturan perundang-undangan, konstruktif berarti berfikir atau memberi pendapat yang bersifat membangun.
            Mahasiswa juga menjadi pelopor dan penggerak roda sejarah demokrasi yang mengabdikan dirinya kepada masyarakat. Mahasiswa menjadi salah satu aset yang sangat penting bagi negara ini pada masa sekarang ataupun masa yang akan datang, sehingga tidak salah jikalau mahasiswa menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan sebuah bangsa.
Tampaknya sekarang telah terjadi pergeseran peran dan fungsi mahasiswa. Mahasiswa yang seharusnya menjadi pelajar dan aspirasi rakyat, kini telah bergeser menjadi orientasi akademik saja dengan anggapan bahwa hanya belajarlah yang menjadi kegiatan utama. Mereka juga beranggapan bahwa yang terpenting dari kuliah adalah lulus dengan IP (indeks prestasi) tinggi dan cepat mendapat pekerjaan. Padahal, IP tinggi bukanlah jaminan seseorang bisa menjadi sukses. yang menentukan keberhasilan seseorang adalah pengalaman-pengalaman yang di dapat, baik dari kampus maupun selain dari kampus, baik pengalaman berorganisasi maupun pengalaman berwirausaha. Karena sejatinya masyarakat tidak membutuhkan IP, namun yang masyarakat butuhkan adalah skill dari orang tersebut.
Paradigma seperti inilah yang menyebabkan mahasiswa tidak kritis dan cenderung lebih pasif. Mereka cenderung melakukan kegiatan yang kurang bermanfaat dan hanya membuang-buang waktu. Mereka dengan santai nongkrong  di warung-warung membicarakan perkara yang notabennya tidak patut untuk dibicarakan oleh seorang mahasiswa. Mereka tak peduli bagaimana kondisi Indonesia sekarang. Yang mereka kedepankan hanyalah gengsi semata, tak memikirkan apa yang harus mereka perbuat untuk memajukan negara ini. Keadaan seperti ini jauh berbeda dengan mahasiswa tempo dulu yang lebih senang berurusan dengan birokrasi. Mereka sering melakukan aksi turun ke jalan guna menyampaikan aspirasi rakyat dengan melakukan demonstrasi, serta aktif dalam berbagai organisasi.
Kampus yang merupakan salah satu tempat mahasiswa untuk menuntut ilmu dan dikatakan sebagai salah satu wadah yang berperan serta dalam mencetak berbagai tenaga ahli serta orang-orang yang mengabdikan dirinya untuk masyaarakat, dulu kental akan diskusi, namun sekarang penuh akan mahasiswa yang berdiskusi, kini sepi dan menjadi tempat tongkrongan para mahasiswa yang sibuk dengan gedget nya. Sungguh ironis memang.
Mahasiswa sekarang sudah terjajah oleh globalisasi. Inilah saatnya mengembalikan idealisme masyarakat kampus. Banyak hal yang dapat dilakukan, dari kampus untuk Indonesia. salah satunya yaitu “propaganda isu” melalui media opini dan pencitraan publik. Propaganda dalam artian mengembangkan dan menekankan isu-isu dengan cara yang halus tanpa diketahui objek propaganda. Melalui media, maka dapat mmengubah dunia.
Jiwa-jiwa optimis dan idealis dapat ditanamkan melalui propaganda media. Mengajak mereka dalam diskusi isu-isu sosial kajian strategis mengenai permasalahan bangsa, bahkan mengajak untuk aksi turun ke jalan juga memungkinkan jika media ini telah cukup menarik simpatik masyarakat kampus. Yang diharapkan sekarang adalah menciptakan masyarakat kampus yang kritis, berpikir kedepan dan tidak menyerah pada realita semata. Dengan media kampus yang mempunyai pergerakan yang massiv, bukan tak mungkin masyarakat yang ideal akan kembali meski dengan hasil yang berbeda. Wallahu a’lamu bi al-shawwab

* Mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Walisongo Semarang

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
5/related/default