Pendidikan merupakan kunci keberhasilan suatu negara. Negara yang
selalu mempehatikan kuantitas dan kualitas pendidikan akan menjadi negara yang
maju. Peran pendidikan dalam suatu negara sangatlah penting, karena tujuan
pendidikan adalah melahirkan generasi penerus bangsa yang mempunyai sumber daya
kreatif, inovatif dan produktif. Pendidikan merupakan unsur yang sangat penting
dalam berbagai aspek kehidupan. Serta modal dasar untuk mewujudkan negara yang
berperadapan dan mewujudkan masyarakat adil makmur.
Ancaman bagi bangsa Indonesia adalah arus globalisasi yang di
respon sangat lemah. Jadi tidak heran jika akhir-akhir ini sering muncul
masalah-masalah yang berkaitan dengan moral, pergaulan bebas bahkan tindakan
sewenang-wenang penguasa yang mengambil keuntungan untuk kehidupan pribadinya
–korupsi. Menurut Simon Kemoni sosiolog asal kenya mengatakan bahwa globalisasi
akan meninggikan berbagai budaya serta nilai-nilanya. Namun, bagi dunia ketiga
harus memperkukuh dimensi budaya mereka dan memelihara struktur nilai-nilainya
agar tidak dieliminasi oleh budaya asing.
Dampak globalisasi memang sangat mengejutkan, bukan hanya budaya
lokal yang terancam kepunahannya saja namun, berpengaruh juga terhadap pendidikan.
pendidikan akan berorintasi pada pasar. Sehingga makna pendidikan yang
memanusiakan manusia menjadi bergeser. Pendidikan hanya digunakan untuk
memenuhi kebutuhan pasar. Terbukti banyak universitas berlomba-lomba membuka
jurusan baru yang peluang kerjanya lebih besar. Sehingga mengakibatkan
kecenderungan orang tau pun akan memasukan anaknya pada jurusan yang dianggap
bergengsi.
Dari realita tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan
hanya digunakan sebagai alat untuk mendapatkan suatu pekerjaan. Sehingga
produk-produk yang dihasilakan tidak memiliki kepekaan sosial terhadap
lingkungan sekitar. Karena tujuan mengenyam pendidikan tersebut hanya berkiblat
pada kepentingan pasar. Mendapatkan pekerjaan yang menghasilkan uang untuk
keberlangsunagan hidupnya. Sehingga pendidikan hanya digunkaan untuk sebuah
kepentingan pragmatis.
Globalisasi juga mempengaruhi perkembangan indutrialisasi. Kemudian
era industrialisasi ini berkembang dan mempengaruhi pola pikir pendidikan saat
ini. Sehingga menyebabkan pelakasanaan pendidikan menjadi tidak bebas.
Kurikulum, materi pelajaran yang diajarkan pun harus disesuaikan dengan
persyaratan teknis dari dunia industri. Jika kita tengok ke belakang suatu
sejarah pendidikan Indonesia masa pra-kemerdekaan maka kita akan menemukan
tujaun pendidikan yang bertolak belakang dengan tujaun pendidikan sekarang ini.
Dulu tujuan pendidikan indonesia adalah untuk mengangkat kaum yang lemah.
Perempuan dan masayarakat miskinlah yang menjadi sasarannya.
Selain itu pendidikan masa pra-kemerdekaan berorientasi pada
penananman nilai-nilai nasionalisme dan nilai-nilai-nilai budaya lokal. Namun, ketika pasca kemerdekaan tujuan
pendidikan telah bergeser yang semula kuat akan nilai-nilai nasionalismnya
sekarang pendidikan hanya berkiblat pada kepentingan pragmatis. Pasca
kemerdekaan Indonesia mencoba menata sistem dengan tujuan dapat menerima dengan
baik. Kemmudian, pendidkan diedakan menjadi empat tingkat. Yaitu, Sekolah
Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas dan perguruan tinggi.
Makna pendidikan ini sungguh telah bergeser, pendidikan yang
seharusnya memanusiakan manusia. Namun, sekarang pendidikan hanya menjadikan
merobotkan manusia. Untuk memenuhi kebutuhan pasar serta mampu bersaing dalam
kancah dunia internasional. Terbukti sekarang di Indonesia didirikan Sekolah Bertarif Internasional (SBI). SBI ini
dilandasi oleh UU no 2 tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional pasal 50 ayat (3)
yang berbunyi, “ pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan
sekurang-kurangnya satu-satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan, untuk
dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasiona”. Standar
lulusan kompetensi SBI adalah keberhasilan lulusan yang melanjutkan ke sekolah
internasional. Memiliki berbagai karya-karya lain dari lulusan yang bermanfaat
bagi dirinya mauun orang lain, bangsa dan usaha-usaha dan atau karya yang
mencerminkan jiwa kewirausahaan.
Namun, jika ditelaah lebih lanjut keberadaan SBI perlu
dipertimbangkan. SBI dikenal sekolah yang bermutu namun biaya pendidikannya
sangat mahal. Sehingga sekolah bermutu ini hanya dihuni oleh orang-orang
menengah atas. Sehingga hal ini menyebabkan ketidakmerataan kesempatan
memperoleh pendidikan yang bermutu. Akibatnya hanya orag yang kaya saja yang
bisa memperoleh pendidikan yang bermutu dan si miskin tetap dengan
kemiskinannya. Selain itu SBI juga dapat
memunculkan tenaga pendidikan yang kuarang memiliki jiwa kependidikan untuk
mengajar. Padahal tidak hanya penanaman intlektual saja tapi rasa cinta tanah
airpun harus diatanamkan. Mengingat sekarang ini merupakan era kapitalisme.
Disadari atau tidak sebenarnya kapitalisme telah merambah pada
dunia pendidikan. pendidikan yang haya mengejar pasar tanpa memperdulikan
niai-niali budaya yang ada. Sehingga perlu adanya restorasi pendidikan di
Indonesia. Supaya kembali pada khittah pendidikan yang dicanangkan oleh Ki
Hajar Dewantara. Wallahu a’lam bi
al-shawab.
(*)
*Mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika FITK UIN Walisongo Semarang

