Racun Kapitalisme pada Pendidikan

Monash Media
0

Oleh: Liya Rahmawati*
Pendidikan merupakan kunci keberhasilan suatu negara. Negara yang selalu mempehatikan kuantitas dan kualitas pendidikan akan menjadi negara yang maju. Peran pendidikan dalam suatu negara sangatlah penting, karena tujuan pendidikan adalah melahirkan generasi penerus bangsa yang mempunyai sumber daya kreatif, inovatif dan produktif. Pendidikan merupakan unsur yang sangat penting dalam berbagai aspek kehidupan. Serta modal dasar untuk mewujudkan negara yang berperadapan dan mewujudkan masyarakat adil makmur.
Ancaman bagi bangsa Indonesia adalah arus globalisasi yang di respon sangat lemah. Jadi tidak heran jika akhir-akhir ini sering muncul masalah-masalah yang berkaitan dengan moral, pergaulan bebas bahkan tindakan sewenang-wenang penguasa yang mengambil keuntungan untuk kehidupan pribadinya –korupsi. Menurut Simon Kemoni sosiolog asal kenya mengatakan bahwa globalisasi akan meninggikan berbagai budaya serta nilai-nilanya. Namun, bagi dunia ketiga harus memperkukuh dimensi budaya mereka dan memelihara struktur nilai-nilainya agar tidak dieliminasi oleh budaya asing.
Dampak globalisasi memang sangat mengejutkan, bukan hanya budaya lokal yang terancam kepunahannya saja namun, berpengaruh juga terhadap pendidikan. pendidikan akan berorintasi pada pasar. Sehingga makna pendidikan yang memanusiakan manusia menjadi bergeser. Pendidikan hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pasar. Terbukti banyak universitas berlomba-lomba membuka jurusan baru yang peluang kerjanya lebih besar. Sehingga mengakibatkan kecenderungan orang tau pun akan memasukan anaknya pada jurusan yang dianggap bergengsi.
Dari realita tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan hanya digunakan sebagai alat untuk mendapatkan suatu pekerjaan. Sehingga produk-produk yang dihasilakan tidak memiliki kepekaan sosial terhadap lingkungan sekitar. Karena tujuan mengenyam pendidikan tersebut hanya berkiblat pada kepentingan pasar. Mendapatkan pekerjaan yang menghasilkan uang untuk keberlangsunagan hidupnya. Sehingga pendidikan hanya digunkaan untuk sebuah kepentingan pragmatis.
Globalisasi juga mempengaruhi perkembangan indutrialisasi. Kemudian era industrialisasi ini berkembang dan mempengaruhi pola pikir pendidikan saat ini. Sehingga menyebabkan pelakasanaan pendidikan menjadi tidak bebas. Kurikulum, materi pelajaran yang diajarkan pun harus disesuaikan dengan persyaratan teknis dari dunia industri. Jika kita tengok ke belakang suatu sejarah pendidikan Indonesia masa pra-kemerdekaan maka kita akan menemukan tujaun pendidikan yang bertolak belakang dengan tujaun pendidikan sekarang ini. Dulu tujuan pendidikan indonesia adalah untuk mengangkat kaum yang lemah. Perempuan dan masayarakat miskinlah yang menjadi sasarannya.
Selain itu pendidikan masa pra-kemerdekaan berorientasi pada penananman nilai-nilai nasionalisme dan nilai-nilai-nilai budaya lokal.  Namun, ketika pasca kemerdekaan tujuan pendidikan telah bergeser yang semula kuat akan nilai-nilai nasionalismnya sekarang pendidikan hanya berkiblat pada kepentingan pragmatis. Pasca kemerdekaan Indonesia mencoba menata sistem dengan tujuan dapat menerima dengan baik. Kemmudian, pendidkan diedakan menjadi empat tingkat. Yaitu, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas dan perguruan tinggi.
Makna pendidikan ini sungguh telah bergeser, pendidikan yang seharusnya memanusiakan manusia. Namun, sekarang pendidikan hanya menjadikan merobotkan manusia. Untuk memenuhi kebutuhan pasar serta mampu bersaing dalam kancah dunia internasional. Terbukti sekarang di Indonesia didirikan  Sekolah Bertarif Internasional (SBI). SBI ini dilandasi oleh UU no 2 tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional pasal 50 ayat (3) yang berbunyi, “ pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu-satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan, untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasiona”. Standar lulusan kompetensi SBI adalah keberhasilan lulusan yang melanjutkan ke sekolah internasional. Memiliki berbagai karya-karya lain dari lulusan yang bermanfaat bagi dirinya mauun orang lain, bangsa dan usaha-usaha dan atau karya yang mencerminkan jiwa kewirausahaan.
Namun, jika ditelaah lebih lanjut keberadaan SBI perlu dipertimbangkan. SBI dikenal sekolah yang bermutu namun biaya pendidikannya sangat mahal. Sehingga sekolah bermutu ini hanya dihuni oleh orang-orang menengah atas. Sehingga hal ini menyebabkan ketidakmerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu. Akibatnya hanya orag yang kaya saja yang bisa memperoleh pendidikan yang bermutu dan si miskin tetap dengan kemiskinannya.  Selain itu SBI juga dapat memunculkan tenaga pendidikan yang kuarang memiliki jiwa kependidikan untuk mengajar. Padahal tidak hanya penanaman intlektual saja tapi rasa cinta tanah airpun harus diatanamkan. Mengingat sekarang ini merupakan era kapitalisme.   
Disadari atau tidak sebenarnya kapitalisme telah merambah pada dunia pendidikan. pendidikan yang haya mengejar pasar tanpa memperdulikan niai-niali budaya yang ada. Sehingga perlu adanya restorasi pendidikan di Indonesia. Supaya kembali pada khittah pendidikan yang dicanangkan oleh Ki Hajar Dewantara. Wallahu a’lam bi al-shawab. (*)

*Mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika FITK UIN Walisongo Semarang



Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
5/related/default