![]() |
| TELATEN : Mohammad Nasih mengajari para mahasantri mengaji di Rumah Perkaderan Monash Institute. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG) |
Dr H Mohammad
Nasih Msi merupakan seorang cendekiawan-aktivis, pendidik-pembangun karakter,
sekaligus entrepreneur. Perpaduan semua menjadikanya sosok yang senantiasa
berpikir ideologis, berwawasan politis, bertindak taktis, dan tetap siap sedia
melakukan yang teknis. Itulah yang membuatnya terdorong untuk membangun Rumah
Perkaderan yang dengan konsep pesantren plus.
Dalam membangun Rumah Perkaderan tersebut, ada dua alasan yang
melatarbelakanginya. "Ada seriusnya, ada tidak seriusnya. Seriusnya ada
pada substansi tujuan, yang intinya melahirkan kader-kader pejuang untuk umat
dan bangsa,” katanya.
Selain itu,
Nasih menambahkan, tidak seriusnya yaitu dalam memberi nama lembaga.
"Sebenarnya itu adalah singkatan nama saya. Mo-nya Mohammad, dan Nash-nya
Nasih. Itu karena ingat dulu sandal jepit saya ketika di pesantren yang sering
dighashab teman. Yang kiri saya tulisi MO dan yang kanan NASH. Sama sekali
tidak ada hubungan dengan MONASH di Australia,” tambah Pendiri Rumah Perkaderan
Monash Institute ini.
![]() |
| KEGIATAN RUTIN : Nasih mendampingi mahasantri mengupas bawang merah. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG) |
Saat diwawancarai oleh Jawa Pos Radar Semarang terkait perjuangannya
mendirikan Monash Institute, doktor Ilmu Politik ini menjawab kalau disebut
perjuangan itu agak berlebihan. Sekali lagi, anggap saja itu iseng-iseng
walaupun memang agak serius juga. Sebab, awalnya, Nasih hanya mengumpulkan
20-an aktivis mahasiswa UIN Walisongo Semarang untuk ia latih menulis pada
Sabtu dan Minggu. "Itu terjadi pada tahun 2010. Saat itu, istri saya
menjalani masa awal kuliah di Program Spesialis Anak di FK Undip. Daripada saya
bengong di rumah, maka saya gunakan waktu sendiri itu untuk melatih
mereka," ungkapnya.
Dalam melatih muridnya menulis, Nasih membuat aturan yang terbilang agak
ketat, untuk mengukur kesungguhan mereka. "Diantaranya tidak boleh telat
walaupun sedetik. Jika telat, tidak boleh ikut agenda. Dan jika tidak ikut
sekali, apapun alasannya, tidak boleh ikut lagi selamanya," ujarnya.
Akibat dari aturan yang tegas dan ketat itu, yang bertahan tinggal belasan
saja. Namun, hasilnya lumayan. "Diantara mereka ada yang cukup produktif
menulis di media massa. Mereka bahkan seolah berlomba mengisi kolom wacana atau
opini," tutur bapak dari dua anak ini.
Diakui, karena hal tersebut, Nasih termotivasi untuk mengembangkan program
itu menjadi lebih intensif. Caranya merekrut Sumber Daya Manusia (SDM)
berkualitas lulusan SMU, agar bisa dibina dengan lebih baik lagi dengan hasil
yang juga bisa diharapkan lebih baik. "Dalam benak saya saat itu, tidak
ada pilihan lain kecuali membuat rumah perkaderan. Dan karena saya adalah orang
pesantren, maka desainnya adalah pesantren plus. Ngaji kitab kuning dan belajar
Al-Qur’an adalah wajib untuk menopang intelektualitas dengan basis khazanah
intelektual Islam klasik,” paparnya.
Dikatakannya gedung Monash Institute saat ini berbeda dengan yang dulu.
Saat itu, Rumah Perkaderan Monash Institute itu belum punya tempat tinggal
(asrama, Red) yang tetap dan bagus seperti sekarang. "Jangan lihat
sekarang dengan tiga asrama dan tempat belajar yang megah dan nyaman ini. Dulu
berawal dari kontrak rumah di seberang kampus III UIN. Angkatan pertama
kebanyakan adalah murid-murid atau saudara-saudara teman-teman kuliah saya
dulu. Bahkan ada anak dari orang yang sering bantu-bantu ibu saya di kampung
sana," ujarnya.
Nasih mengaku, dalam mendirikan dan mengelola Rumah Perkaderan tersebut,
hampir tidak ada keluh kesahnya. "Bahkan saya bisa menjalaninya dengan
semangat, dan yang terpenting kemudian saya merasa harus menjadi terus lebih
baik. Sebab, dalam mendidik, tentu saja tidak cukup hanya dengan mengajari dan
memerintah, tetapi juga harus memberikan teladan konkret," katanya.
Masalahnya adalah pada pencapaian target. Pria penghafal al-Qur'an sejak di
bangku SMU ini terinspirasi oleh Syaikh Abdul Qadir al-Jilani yang manaqibnya
rutin dibaca oleh masyarakat Nahdlatul Ulama' (NU). Dia mengatakan bahwa guru
ideal haruslah memiliki tiga kualitas, yaitu: ilm al-ulamâ’ (kapasitas keilmuan
para ulama’), hikmat al-hukamâ’ (hikmah/kebijaksanaan kaum bijak bestari), dan
siyâsat al-mulûk (kemampuan politik para raja). "Ini cocok sekali dengan
pandangan hidup saya, bahwa Islam ini tidak sebagaimana dikatakan oleh banyak
orang, termasuk kalangan cendekianya, bahwa politik adalah medan kotor yang
karena itu harus dihindari. Umat Islam, apalagi di Indonesia adalah umat mayoritas,
haruslah berperan aktif dalam politik,” katanya
Nasih menambahkan, untuk memotivasi para mahasantri, ia mendatangkan
teman-temannya yang pengusaha dan akademisi. "Teman-teman saya yang
kebetulan sedang di Semarang, atau sekedar akan lewat Semarang, saya minta
mampir untuk berbagi pengalaman," katanya.
Kuliahkan Mahasantri ke Luar Negeri
Ternyata santri yang Nasih bina ini tidak hanya mampu untuk kuliah di dalam
negeri. Ada beberapa santrinya yang berhasil menempuh pendidikan ke luar
negeri.
"Sebenarnya yang menguliahkan ke luar negeri bukan saya. Saya hanya
mendapatkan informasi saja dari teman-teman bahwa ada beasiswa kuliah ke luar
negeri. Ya paling memberikan support ala kadarnya saja untuk keperluan awal
hidup disana. Atau biaya transport yang harus ditanggung sendiri. Bahkan ada
yang saya tidak campur tangan sama sekali. Mereka sudah bisa memenuhi kebutuhan
mereka sendiri," tuturnya.
Dalam hal pendidikan formal, Nasih memberikan motivasi tersendiri agar
santrinya dapat menjadi doktor pada usia sebelum 30 tahun. "Hitungannya
sederhana saja; saya lulus S3 umur 30 tahun. Dengan pembinaan yang lebih
intensif, mestinya mereka bisa lebih cepat. Dan Alhamdulillah sekarang sudah
mulai panen master. Angkatan pertama sudah ada yang masuk program S3. Para mentor
generasi awal sudah ada yang hampir lulus S3," katanya.
Adapun bisnis yang ia kelola terus berjalan. Ada yang naik, ada yang turun.
Karena bisnisnya di bidang pertanian. Dan kebijakan Pemerintah di bidang
pertanian sangat tidak berpihak kepada petani. Namun, itu tantangan tersendiri
baginya. Diakui, dari usaha menanam tebu, menggiling gula merah, menanam bawang
dan memproduksi bawang goreng itu, ia berharap Allah memberikan berkahNya.
Tentang politik, Nasih memandangnya sangat penting. Bukan hanya karena
disiplin keilmuannya adalah politik. Namun, terlebih karena secara faktual ia
rasakan betapa pentingnya struktur kekuasaan politik untuk menolong.
"Dengan uang saya, saya mungkin bisa membantu cukup banyak orang. Namun,
jika ada kekuasaan, saya bisa menggunakannya untuk menolong semua orang,"
jelasnya.
Ia mengaku, pengalaman berpolitik yang ia jalani juga penting sebagai bahan
ajar kepada para mahasantri agar mereka mempersiapkan diri secara lebih baik,
sehingga lebih siap menjalani kehidupan politik yang penuh dengan persaingan.
Target ke depan, Nasih berharap, pada 20-30-an tahun yang akan datang,
kader-kader yang telah mendapat tempaan keras, akan menjadi pejuang-pejuang
yang benar-benar memiliki komitmen tinggi untuk melakukan perbaikan. Baik
dengan jalan kultural maupun struktural. "Berdasarkan pengalaman dari
berbagai negara yang mengalami perubahan drastis, rentang waktunya memang
20-30-an tahun itu. Sekedar contoh Turki. Mesir juga walaupun kemudian Ikhwan
jatuh lagi. Intinya, usaha perbaikan harus kita lakukan," pungkasnya.
Memilih Ber-HMI
Nasih menceritakan, pada 1997 mulai masuk kuliah, tepatnya di Jurusan
Fisika UNNES, persis menjelang metamorphosis dari IKIP. Saat itu ia mencari
organisasi kemahasiswaan yang berafiliasi dengan NU. Informasi yang ia punya,
baik dari bacaan maupun dari mulut ke mulut, organisasi kemahasiswaan NU adalah
PMII, dan Muhammadiyah adalah HMI.
Namun ternyata salah. Karena underbow Muhammadiyah adalah IMM. Sedangkan
HMI adalah organisasi independen yang di dalamnya terdapat mahasiswa muslim
dari berbagai macam latar belakang. Ada dari Muhammadiyah, NU, Persis,
al-Washliyah, Hidayatullah, dan yang tidak punya latar belakang keluarga dengan
afiliasi organisasi keagamaan. "Namun, yang membuat saya lebih tertarik
kepada HMI adalah karena lebih dinamis. Para aktivis HMI aktif mendekati saya
dengan mengajak diskusi tentang tema-tema keislaman dan ke-Indonesiaan. Dan
pilihan saya ternyata sangat tepat. Di dalam HMI, saya mengenal Islam secara
komprehensif, sehingga mampu melepaskan fanatisme yang tidak perlu,"
tuturnya.
Tidak ada yang istimewa dalam membagi waktu. Pokoknya ia jalani saja
mengalir. Bahkan Nasih tidak punya staf yang mengatur agenda. "Cukup saya
catat dalam smartphone. Jika waktunya cocok, saya iyakan. Jika pas sudah ada
agenda, ya mohon maaf," katanya.
Aktivitas rutin Pengasuh Rumah Perkaderan Monash Institute ini setelah
maghrib sampai isya’ atau sekitar pukul 21.00 dan setelah shalat subuh sampai
pukul 06.00 adalah mengajar Tafsir dan Hadits, juga menyimak hafalan para
mahasantri. Selain itu, mengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI di
Depok, FISIP UMJ di Ciputat, dan STEBANK di dekat Salemba Jakarta Pusat.
"Kalau akhir pekan aktivitas lebih banyak di Pesantren Monash Institute
menyimak para mahasantri yang setoran hafalan Al-Qur’an," jelasnya.
Dia menjelaskan, ada kalanya menjalani aktivitas luar yang harus “membuang”
waktu dalam perjalanan. "Ini yang perlu agak disiasati. Intinya, waktu
melakukan perjalanan ke sana kemari itu harus saya manfaatkan seoptimal
mungkin. Waktu menunggu di bandara atau stasiun, saya manfaatkan untuk membaca
buku dan artikel, atau menulis, karena objek bacaan tidak goyang-goyang. Saat
berada di atas pesawat, kereta, atau mobil, saya manfaatkan untuk membaca
Al-Qur’an. Kalau ngantuk lagi, ya tidur saja," ujarnya.
Selain itu, aktivitasnya adalah mengajar atau menjemput rizki atau uang.
"Menulis adalah sumber penghasilan saya sejak semester II kuliah. Sebab,
uang memang bukan segala-galanya, tapi segala-galanya perlu uang. Dan perintah
jihad juga dengan uang, bukan sekedar omong doang. Dengan cara inilah tidak ada
sedetik pun waktu terbuang," katanya.
Adapun waktu berkumpul dengan keluarga hanya pada Jumat sampai Minggu.
Sebab, Senin sampai Kamis, doktor ilmu politik ini biasanya di Jakarta. Bersama
anak-anaknya, Nasih sering berkumpul di pesantren dibandingkan dengan di rumah.
"Anak-anak biasanya ikut saya ke pesantren untuk salat berjamaah dan
belajar Al-Quran sampai mereka tertidur dan bertemu lagi pada saat salat subuh.
Mereka sering tidur di pesantren dibandingkan di rumah bersama ibunya,”
ujarnya.
Sedangkan dengan istrinya, Nasih hanya ada sedikit waktu untuk bersamanya.
"Dengan istri, tentu ya di atas pukul 21.00 yang seringkali dia sudah
tidur. Tapi kami sudah membangun kesepakatan saat sebelum menikah bahwa di
antara kami berdua harus ada yang mengerjakan aktivitas sosial dan pendidikan
yang menuntut aktivitas di luar rumah,” paparnya.
Nasih mengaku, waktu sarapan biasanya menjadi waktu untuk ia sekeluarga
berkumpul semuanya. "Dan yang terpenting sesungguhnya adalah kualitas
dalam berkumpul. Apalagi banyak waktu berpisah sekarang bisa dijembatani dengan
saling kirim pesan via WA dan bisa video call kalau sedang di jalan dan
senggang. (Siti Qoniatun Ni’mah)
(sm/ida/ida/JPR)
SUMBER: JAWA POS


