Bagi penulis, Dr. Mohammad Nasih adalah guru utama (spiritual) sekaligus inspirator-motivator dalam hidup. Lahir di desa pelosok yang tidak terlihat dalam peta, Desa Mlagen, Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang, tidak membuatnya merasa rendah diri. Nasih justru tumbuh menjadi sosok yang dikagumi orang-orang di sekelilingnya. Ibarat pelita yang menerangi gelapnya malam, kini Nasih menjadi pencerah atas gelapnya habbit umat Islam di Indonesia. Alumnus Tafsir Hadits Institute Agama Islam Negeri Walisongo (sekarang UIN Walisongo) Semarang ini sering diundang dalam diskusi atau seminar ke daerah-daerah di Indonesia. Kapasitasnya sebagai pengajar di program Pascasarjana Universitas Indonesia (UI) dan FISIP UMJ menjadikan dirinya dikenal luas oleh para akademisi di negeri ini, terlebih dalam bidang politik.
Putra dari pasangan Mohammad Mudzakir (alm) dan Hj.
Chudzaifah itu secara formal memang lebih dikenal sebagai ilmuwan sekaligus
praktisi politik (baca: politisi) daripada yang lain. Ini berdasar atas
dicapainya gelar doktor dalam bidang ilmu politik di Universitas Indonesia
(2010) dan pernah menjadi salah satu pengurus di Dewan Pimpinan Pusat Partai
Amanat Nasional (DPP PAN). Selain itu, pembuktian Nasih sebagai seorang
pilitisi adalah dengan menjadi calon anggota legislatif (Caleg) DPR RI di dua
pemilu berturut-turut, yaitu pada 2009 dan 2014, meskipun belum berhasil lolos
ke Senayan.
Karier politik Dr. Mohammad Nasih bisa dikatakan cukup
akseleratif. Hal ini disebabkan oleh pengalaman organisasi yang matang semasa
masih menjadi mahasiswa. Pemuda kelahiran 1 April 1979 itu aktif di Himpunan
Mahasiswa Islam (HMI), orgaisasi mahasiswa Islam tertua dan terbesar di
Indonesia. Di HMI, Nasih telah melahap habis seluruh strukturtural, mulai dari
tingkat komisariat, korkom, cabang, hingga Pengurus Besar HMI. Selain itu, ia
juga aktif di Gerakan Pemuda Islam (GPI) dan pernah menjabat sebagai Ketua
Pimpinan Pusat GPI (2006-2010). Pada 2006, Nasih terpilih sebagai
Presidium Pengurus Pusat MASIKA ICMI (2006-2011). Segudang pengalaman itulah,
ditambah kecerdasan tidak biasa yang dimilikinya, mengantarkan Nasih dikenal
sebagai sosok politisi yang punya idealisme tinggi sampai saat ini.
Perbaikan dari Pinggir
Namun, seiring dengan kondisi perpolitikan Indonesia yang
semakin hari kian kacau, dan sadar bahwa peranannya (yang seorang diri) tidak
cukup untuk memperbaiki semua itu, Nasih memutuskan untuk tidak hanya terjun di
dunia politik. Harus ada revolusi mental terhadap orang-orang baik untuk masuk
ke dalam dunia politik secara bersama-sama, sehingga diharapkan mampu
memperbaiki Indonesia ke depan melalui gerkan “revolusi dari atas”. Ia akhirnya
memilih jalan mendaki lagi sulit, yaitu dengan cara memberdayakan anak-anak
muda (kampung) potensial untuk ditempa menjadi pemimpin berkarakter. Perbaikan
dari pinggir ini diwujudkan dengan mendirikan rumah perkaderan Monash
Institute—Monash adalah singkatan dari Mohammad Nasih—di Semarang. Kini, ada
150 lebih disciples (sapaan untuk santri di Monash Institute)
yang dibina di sana. Merasa ada keberhasilan, Nasih mendirikan Monash Institute
Ciputat (MIC) yang berlokasi di sekitar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Selain
itu, dengan sistem yang hampir sana, saat ini ia bersama dengan AM. Fatwa juga
sedang mengelola mahasiswa-mahasiswi yang kuliah di Stebank Syafrudin
Prawiranegara dengan pembinaan super intensif.
Berdirinya rumah perkaderan itu menjadikan Mohammad Nasih
harus bolak-balik Jakarta-Semarang setiap minggunya. Selain karena harus
mengajar-memantau disciples di rumah perkaderannya itu, Nasih
juga memanfaatkan waktu ke Semarang untuk bertemu dengan keluarganya yang juga
berada di Semarang. Nasih yang telah menikah dengan Oky Rahma—seorang dokter
spesialis anak, yang tidak lain merupakan putri dari dosesnnya ketika kuliah di
UIN Walisongo Semarang, yakni Prof. Dr. Sri Suhandjati—pada 2010 lalu, kini
telah dikaruniai dua orang anak, Atena Hokma Denena dan Atena Hekmata
Mellatena. Nasih sering mengatakan, jika kepulangannya ke Semarang adalah untuk
bertemu dengan anak-anak biologis, juga anak-anak ideologis kesayangannya, dan
tentu saja juga isteri tercintanya. Karena itulah, Nasih menjalani aktivitas
yang padat itu dengan penuh semangat kenabian. (Ada logika yang terbalik dalam paragraf
ini? Mungkin memang disengaja ya).
Kesibukan mengkader anak-anak muda sebenarnya telah ia
lakukan saat masih mahasiswa, yaitu menjadi instruktur di Himpunan. Pengalaman
panjang soal perkaderan itulah yang membuat Nasih memiliki banyak cara dan strategi
untuk melahirkan kader-kader tangguh di masa yang akan datang. Satu hal yang
menjadikannya berbeda dengan ilmuwan, politisi, atau pedidik saat ini adalah ia
seorang hafidh (penghafal al-Qur’an). Bukan cuma penghafal,
tetapi dengan kemampuannya memahami al-Qur’an, Nasih juga berusaha menerapkan
nilai-nilai qur’ani dalam kehidupan, baik untuk dirinya sendiri, keluarga,
anak-anak ideologis, maupun orang-orang di sekeliling yang mencintainya.
Sehingga, segala hal yang dikatakan dan paradigma yang diberikan olehnya
“selalu” berdasarkan pada al-Qur’an. Inilah yang kemudian menjadikan Mohammad
Nasih menjadi sosok yang dikagumi oleh banyak kalangan.
Terlahir dari keluaga hafidh-hafidhah, membuat
Nasih sangat akrab dengan kitab suci agama Islam itu sejak kecil. Jangan heran
jika saat ini Nasih termasuk orang yang sangat fundamental dengan al-Qur’an.
Fundamental yang rasional, bukan kolot lho ya. Pemahamannya yang
komprehensif terhadap al-Qur’an membuat Nasih yakin betul bahwa hanya al-Qur’an
(dan Hadits) lah yang layak dijadikan pedoman hidup seluruh umat manusia, bukan
yang lain. Paradigma inilah yang berusaha terus ditanamkan Nasih kepada anak
didiknya dan seluruh orang-orang yang dekat dengannya, sehingga muncul
istilah qur’anic habbit. Dimulai dari diri sendiri dan
keluarganya, qur’anic habbit ini juga ia terapkan di rumah
perkaderan Monash Institute, bahkan menjadi tag line; Monash
Institute: Exellent with al-Qur’an.
Kematangan Pemikiran
Pandangan Mohammad Nasih mengenai qur’anic
habbit ini jangan dikira muncul begitu saja. Namun, semua itu
berangkat dari pencarian panjangnya. Nasih memang telah hafidh al-Qur’an
sejak masih SMA dan ketika nyantri di Pondok Pesantren Annur, Lasem. Namun, hal
itu ternyata bukan jaminan untuk tidak “kafir”. Setelah lulus SMA, lalu
melanjutkan kuliah di UNNES dan IAIN Walisongo Semarang, serta masuk di HMI
yang memiliki kultur menganjurkan kebebasan berpikir, membuat Nasih mengalami
guncangan pemikiran. Hal ini disebabkan oleh kegemarannya
mengkonsumsi buku-buku yang ditulis para ilmuwan Barat, sehingga mereka sangat
mempengaruhi cara berfikir Nasih kala itu. Bahkan, gara-gara itu, Nasih pernah
sampai pada pemikiran bahwa al-Qur’an itu buatan Muhammad, bukan wahyu dari
Tuhan. Karena itulah, Nasih pernah dikafirkan oleh teman-temannya. Bahkan yang
lebih parah, cara berpikir yang demikian itu terdengar oleh ibunya yang
ditinggal di Rembang, sehingga membuat anak-ibu itu terlibat konflik
biologis-teologis.
Namun, seiring dengan banyaknya buku-buku bacaan yang
berasal dari ulama-ulama muslim yang telah ia “habiskan”, ditambah dengan
pengalaman-pengalaman spiritual yang didapatkannya, akhirnya cara berpikir
Nasih lama kelamaan mengalami perubahan, dan bahkan kayakinannya terhadap
al-Qur’an lebih MANTAP, dibandingkan sebelumnya. Paradigma
yang satu ini sangat mempengaruhi cara pandangnya terhadap segala sesuatu. Cara
pandangnya begitu berbeda. Penulis melihat sendiri perbedaan “keimanan”
Mohammad Nasih terhadap al-Qur’an, dari mulai saat penulis awal-awal ke MI
(2011) hingga saat ini (2015), sehingga hal itu juga mempengaruhi perubahan
sistem, cara berpikir, dan tujuan lembaga perkaderan yang didirikannya.
Salah satunya termanifestasikan ke dalam program
Menghafalkan Al-Qur’an 10 Bulan (2014), bahkan baru-baru ini diluncurkan
program Tahfidh Al-Qur’an Lima Bulan. Jika sebelumnya proses menghafalkan
al-Qur’an dilakukan bersamaan dengan pemberian beasiswa kuliah di perguruan
tinggi, melalui program ini disciples diharapkan
sudah hafal al-Qur’an (hafidh) sebelum
memasuki perkuliahan. Dengan begitu, proses pembelajaran selanjutnya akan lebih
fokus pada pendalaman pemahaman al-Qur’an dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Dengan demikian, keinginan kuat Mohammad Nasih untuk melahirkan hafidh-hafidhah yang
mampu mengatasi problematika umat-bangsa dalam rangka mewujudkan qur’anic
habbits untuk Indonesia raya bisa tercapai.
Kini, Mohammad Nasih telah menemukan keyakinannya
(baca: haq al-yaqiin), sehingga ke mana-mana, ia selalu
meneriakan kebenaran al-Qur’an dan keharusan kita untuk mengikuti ajaran yang
ada di dalamnya. Merasa bahwa Monash Institute institute yang didirikan
memiliki hasil yang cukup signifikan, ditambah dorongan-dukungan dari keluarga
dan teman-temannya, Nasih berkeinginanan membangun Monash-Monash baru di daerah
lain di seluruh Indonesia. Tentu saja ini niat yang mulia. Semoga niat baiknya
dalam upaya untuk melahirkan pemimpin muda berkarakter qur’ani bisa segera
terealisasi.
Di tengah kesibukannya yang luar biasa, Nasih
menyempatkan diri untuk menghadiri undangan mengisi program-program televisi
nasional. Salah satunya, Nasih bersama Chusnul Mar’iyah, Ph.D., menjadi pengisi
program Belajar Islam di MNC Muslim (Channel 97) dengan tema-tema sosial,
ekonomi, dan pendidikan yang ditayangkan tiap Senin pukul 20.00 WIB. Tentu saja
yang dibicarakan tidak jauh dari qur’anic habbit, yang
meliputi segala persaolan di dunia ini. Selain itu, sesekali
Mohammad Nasih juga memberikan perspektif terkait situasi perpolitikan nasional
di TV One, JakTV, MUTV, dan media-media lainnya. Namun, bagi Nasih
yang utama adalah perkaderan. Mengelola perkaderan lebih menyenangkan daripada
tampil bersama para elite politik negeri ini, meski Nasih sangat mudah bertemu
dengan mereka. Padahal, yang kedua itulah yang sangat didambakan oleh kebanyakan
orang.
Sekali lagi, jalan yang ditempuh oleh Dr. Mohammad Nasih,
M.Si adalah yang sukar lagi mendaki. Mengutip pendapat teman saya Muhammad
Ditya Ariyansyah, alumnus STAN yang juga memilih untuk berguru kepada sang
doktor hafidh itu:
“Mohammad Nasih adalah salah satu individu yang mengambil pilihan secara
sadar untuk berumah di tepi air. Kalaupun sewaktu-waktu timbul ombak yang dapat
menyeret dan melenyapkan, hal itu tidak menjadi perhatian utama. Bagi beliau,
justru tepi air menyajikan suatu keindahan yang tak terperi. Di salah satu
sudut, tertanam tegak pohon kelapa yang melambai-lambai mengikuti irama angin.
Formasi karang terbentuk di sudut lain tepi air, memecah ombak-ombak kecil yang
datang. Tak jarang, sinar matahari kala terbit dan tenggelam semakin
memperindah tepi air. Selain keindahan, tepi air memberikan kemudahan untuk
mengakses samudera politik yang memiliki kekayaan alam melimpah ruah. Oleh
karena itu, banyak individu lain yang juga memutuskan untuk berumah di tepi
air. Sayangnya, tidak semua individu mempunyai tujuan yang baik. Bahkan,
mayoritas individu berumah di tepi air agar kekayaan alam samudera dapat
dieksploitasi untuk kepentingan pribadi maupun golongan.”
Tidak ada perjuangan yang tidak sulit. Jika mudah,
namanya bukan lagi perjuangan. Namun, dengan tekad kuat yang didasari oleh
keimanan yang hanief, tidak mudahnya jalan perjuangan itu akan
menjadi kenikmatan dan kebahagiaan, jika dijalani dengan penuh
kegembiraan.
Namun, sesempurnanya Mohammad Nasih, tetap beliau adalah
seorang manusia biasa, yang tentu saja melakukan kesalahan dan tidak sedikit
kekurangan. Tepat di usia ke 36 tahun ini, kita semua berdo’a agar beliau Dr.
Mohammad Nasih beserta keluarga selalu diberikan kesehatan dan keselamatan
dalam mengarungi kerasnya perjuangan. Kita ingin bangsa Indonesia menjadi
bangsa yang besar. Dimulai dari pinggir ini, kita berharap cita-cita Pak Doktor
(dan kita semua) dalam melahirkan pemimpin besar berkarakter qur’ani bisa
terwujud. Tentu kita juga mendo’akan agar Dr. Mohammad Nasih terus ditambahkan
rezeki yang melimpah lagi barokah oleh Allah Swt. untuk menopang perjuangan
yang lebih besar lagi. Hadirnya orang-orang baik yang lebih banyak untuk
membantu Dr. Mohammad Nasih dalam membangun long life
'caderitation', tentu juga menjadi harapan kita bersama.
Kita berharap ada banyak orang yang mengambil jalan sunyi untuk mewujudkan
perbaikan, sebagaimana dilakukan Dr. Mohammad Nasih dkk. Terakhir, semoga
anak-anak (biologis maupun ideologis) beliau selalu diberikan kesehatan,
kekuatan, dan kesabaran untuk terus menempa diri, agar terus menjadi lebih
baik, sebagai upaya untuk membentuk insan cita yang menerapkan qur’anic
habbits di dalam kehidupannya. Wallahu a'lam bi al-shawaab.
SELAMAT ULANG TAHUN, MAHA GURU!
SELAMAT ULANG TAHUN, BAPAK IDEOLOGIS!
WE LOVE YOU FULL........!!!
"Bangsa Ini beruntung punya pejuang tangguh sepertimu, Bah. Terima kasih atas perjuangan tiada keluh selama ini. Semoga Abah diberikan umur yang panjang lagi berkah oleh Allah Swt. Aamiin."
Semarang, 1 April 2015
Semarang, 1 April 2015


Obat Sipilis Ampuh
BalasHapusobat sipilis manjur
nama obat sipilis paling ampuh
obat sipilis paling ampuh
obat sipilis yang ampuh
obat sipilis yg ampuh
nama obat sipilis ampuh
obat sipilis yang paling ampuh
obat sipilis yg paling ampuh
nama obat sipilis yang ampuh
Nama: __ Hendi Zikri Didi
BalasHapusKota: _______________ Malacca
pekerjaan: _ Pemilik bisnis
Setiap pemberitahuan: ____ hendidi01@gmail.com
Halo semua, harap berhati-hati tentang mendapatkan pinjaman di sini, saya telah bertemu banyak pemberi pinjaman palsu di internet, saya tipuan saya hampir menyerah, sampai saya bertemu seorang teman yang baru saja mengajukan pinjaman dan dia mendapat pinjaman tanpa stres, jadi dia memperkenalkan saya pada PERUSAHAAN PINJAMAN AASIMAHA ADILA AASIMAHA ADILA yang sah, saya mengajukan permohonan untuk Rm1, 3 juta. Saya memiliki pinjaman dalam waktu kurang dari 2 jam hanya dalam 1% tanpa jaminan. Saya sangat senang karena saya diselamatkan dari menjadi miskin dengan hutang. jadi saya menyarankan semua orang di sini membutuhkan pinjaman untuk menghubungi AASIMAHA dan saya meyakinkan Anda bahwa Anda akan mendapatkan pinjaman Anda.
Aplikasi / Pusat Kontak
E-mail: ._________ aasimahaadilaahmed.loanfirm@gmail.com
WhatsApp ____________________ + 447723553516